Powered by Blogger.

Estanislao Soria : Pendeta Katolik, Seorang Muallaf

Ketika tokoh Muslim Moro, Nur Misuari menyatakan wilayah Mindanao harus memisahkan diri dari Filipina dan menjadi negara Islam, Estanislao Soria menjadi orang yang paling menentang keinginan Misuari. Sebagai seorang tokoh agama Katolik yang lahir di Mindanao, ia menolak keras jika tanah kelahirannya diambil alih oleh orang-orang Muslim.

“Saya sangat tidak setuju dengan Misuari dan saya memelopori kampanye menentang gerakan Moro,” kata Soria yang populer di panggil “Father Stan”. Ketika itu, selain dikenal sebagai pendeta Katolik, Soria juga dikenal sebagai seorang sosiolog.

Sebagai seorang cendikiawan, ia tidak mau sembarangan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keinginan Misuari. Soria pun melakukan riset sejarah dan sosial serta membaca artikel-artikel tentang Islam, untuk memperkuat argumennya menolak tuntutan gerakan Moro yang ingin menjadikan Mindanao sebagai tanah air bagi Muslim Filipina. Tapi siapa nyana, artikel-artikel tentang Islam yang ia baca, justru membawanya menjadi seorang Muslim.

“Sebagai orang yang memahami bahasa Latin, Yunani dan Yahudi, saya pikir saya bisa mempelajari bahasa Arab dengan mudah. Saya juga ingin menerjemahkan tulisan-tulisan berbahasa Arab ke bahasa Inggris dan menerjemahkan ideologi-ideologi Barat, misalnya ideologi eksistensialisme, ke dalam bahasa Arab. Tapi saya menyadari, ini adalah pekerjaan yang sulit,” kata Soria seperti dikutip dari Islamonline.

Ketika itu Soria meyakini, dengan banyak menerjemahkan artikel-artikel tentang ideologi Barat ke dalam bahasa Arab, akan membuat Muslim di Mindanao menghargai ajaran Kristen daripada ajaran Islam. “Saya ingin membuka wawasan berpikir mereka tentang kekristenan karena saya banyak mendengar hal-hal negatif tentang Muslim. Saya berpikir, mereka (Muslim) harus dididik,” ungkap Soria.

Tapi semakin ia mendalami bacaan-bacaanya tentang kekristenan, ia makin menyadari bahwa tokoh-tokoh gereja seperti Saint Thomas Aquinas ternyata banyak belajar dari buku-buku bacaan dan ajaran Islam. Begitu juga ideologi-ideologi dan ilmu teologi yang disebut-sebut sebagai berasal dari Barat, ternyata sudah sejak lama dibahas dalam Islam.

“Dari bacaan-bacaan itu saya mendapat pencerahan bahwa pemikiran-pemikiran tentang peradaban Barat banyak banyak yang mengambil dari ajaran-ajaran Islam. Dan setelah saya membaca lebih banyak lagi buku-buku yang ditulis pakar agama Islam, pandangan saya terhadap Islam seketika berubah,” papar Soria.

“Saya bahkan menyadari bahwa Injil Barnabas lebih kredibel dibandingkan dengan keempat injil yang dibawa oleh ajaran evangelis termasuk injil Kristen. Dari hasil riset sosiologi yang saya lakukan, saya juga banyak menemukan bahwa hal-hal negatif yang sering saya dengar tentang Muslim Filipina ternyata tidak benar,” tambah Soria.

Akhirnya, pada tahun 2001, Soria yang telah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun sebagai pendeta di berbagai kota di Manila, menyatakan diri masuk Islam. Setelah mengucap syahadat, ia mengganti namanya menjadi Muhammad Soria. Meski demikian, masih banyak orang, termasuk teman-temannya yang Muslim memanggilnya “Father Stan.”

Soria yang kini berusia 67 tahun mengatakan, ia mendapat hinaan dan kecaman dari kerabat dan rekan-rekan gerejanya ketika memutuskan menjadi seorang Muslim. Namun hinaan dan kecaman itu tidak membuatnya berat menanggalkan aktvitas kependetaan yang sudah dijalaninya selama 14 tahun dan membuatnya mantap untuk memeluk Islam.

Seiring perjalanan waktu, Soria mulai terbiasa menjalani kewajiban-kewajibannya sebagai seorang Muslim. Bagi Soria, Islam bukan sekedar agama tapi sudah menjadi jalan hidupnya. Selama tujuh tahun menjadi seorang Muslim, Soria sudah lima kali menunaikan ibadah haji, menjadi anggota Gerakan Dakwah Islam di Filipina dan tahun 2004 menikah dengan seorang perempuan berusia 24 tahun, setelah sebelumnya menjalani hidup membujang sebagai pendeta Katolik.

“Dalam Islam, kita diajarkan, jika bisa mendisplinkan diri kita, Sang Pencipta akan mengabulkan harapan-harapan kita,” tandas Soria.

Menurut Soria, jika ada satu hal yang harus dicontoh umat Islam dari orang-orang Kristen adalah, gerakan mereka yang terorganisir dan terstruktur dengan sangat rapi. “Dengan memiliki struktur yang kuat seperti yang dimiliki kalangan Kristiani, akan mempermudah penyebaran Islam,” kata Soria.

Salah satu cara untuk memperkuat struktur umat Islam, tambah Soria, Muslim harus membangun universitas-universitas di seluruh dunia seperti yang dilakukan kelompok misionaris Kristen di berbagai belahan dunia.

Sumber : Eramuslim

Musa Bangura : Ngajak Murtad, Malah Masuk Islam

Awalnya Mengajak Muslim untuk Murtad, Misionaris Ini Justru Terpikat Islam. "Selama bertahun-tahun, saya berusaha membujuk muslimin di negara saya untuk murtad. Namun saya justru mendapat mimpi yang membujuk saya untuk memeluk Islam,” ujar Musa Bangura, seorang misionaris asal Sierra Leone Afrika, mengawali kisahnya.

Bukan menjalankan tugas sebagai misionaris, Bangura justru tertarik dengan Islam. Bukan menyudutkan agama Islam agar muslimin tertarik untuk murtad, Bangura justru mendapati hatinya tertarik pada risalah Rasulullah.

Kisah Bangura bermula sekitar dua puluh tahun yang lalu saat mendapati mimpi yang mengajaknya pada Islam. Mimpi itu pun bukan sekali, melainan tiga kali di malam yang berurutan. Ia pun kemudian merasa terpanggil dengan mimpi "aneh" itu. Bangura mulai mempelajari Islam.

Sebagai misionaris, tentu Bangura tahu betul apa itu Islam dan siapa itu muslim. Namun pengetahuan yang ia tahu itu hanyalah dari sudut pandang agamanya. Dengan panggilan mimpi itu, ia pun kemudin mempelajari Islam dengan benar dan secara kaffah. Hasilnya, banyak pengetahuan dan logika baru yang ia peroleh.

Ketauhidan Allah menggerakkan hatinya. Ia kemudian bertanya-tanya akan paham anak tuhan yang selama ini ia yakini. Keyakinan pada agama sebelumnya pun mulai luntur. Ia kemudian mendatangi pendeta untuk berdiskusi. Pergulatan hati akan dua paham berbeda membuat benaknya dipenuhi pertanyaan.

"Saya mengungkapkan kontradiksi dalam agama saya kepada pendeta, dan kami pun berdiskusi," ujarnya kepada kantor berita Anadolu, dikutip onislam.

Kontradiksinya mulai terlihat terang. Bukan menemukan kembali keyakinan pada agamanya, namun menemukan agama baru seperti dalam mimpinya; Islam. Setelah banyak melakukan diskusi, ia pun kemudian mendapat keyakinan bahwa Islam lah agama yang haq. "Saya membuktikan (saat diskusi dengan pendeta) bahwa Islam adalah agama yang benar," tuturnya.

Bangura pun kemudian melantunkan syahadat, saat itu tahun 1993. Saat ini ia menjadi ulama yang melakukan safari dakwah di kawasan Afrika, terutama di negaranya, Sieraa Leone. Ia banyak menjadi perantara jalan hidayah masyarakat disana.

Begitu semangatnya Bangura dalam dakwah Islam, ia pun kemudian mendirikan sebuah organisasi bernama Why Islam In Action (WIIA) pada tahun 1995. Organisasi non-pemerintah ini sebetulnya bergerak di bidang kemanusiaan. Bangura mengajak para musimin untuk peduli pada kemiskinan di kampungnya, Sierra Leone. Namun Bangura yang telah menjadi da'i kemudian mendapat banyak apresiasi positif dari masyarakat setempat. WIA pun menjadi sumber informasi terpercaya mengenai Islam.

Organisasi besutan Bangura ini pun makin berkembang. Sebuah organisasi di Turki bersedia menjadi sponsor dan memberikan dana yang dibutuhkan WIA. Kesuksesan pun diraih WIA ketika membantu lebih dari 8 ribu masyarakat dalam memeluk agama Islam.

Saat ini Sierra Loenne pun dihuni mayoritas muslimin. Dari total 6 juta warga Sierra Lonne, 4 juta merupakan muslimin. "Saya menjadi seorang yang membantu mereka melihat kebenaran dan merasakan hidayah Islam," tuturnya.

Ditinggal Keluarga

Saat memeluk Islam, para mualaf selalu dihadapi rintangan dan tantangan sebagai ujian keimanan mereka. Bagi Bangura, di tinggal keluarga merupakan ujian yang sangat berat. Setelah bersyahadat, ia di tinggal seluruh anggota keluarga termasuk istrinya. Ia berhasil mendakwahkan banyak orang, namun tidak keluarganya. Ia bahkan berusaha mendakwahkan Islam pada teman-teman misionaris lain. Namun hidayah hanya Allah yang mampu memberi.

Tak berlarut dalam kesedihan, Bangura bangkit dan berusaha mengabdikan diri pada agama. Dari keterpurukan hati itulah Bangura membentuk WIA yang disana ia mendapat keluarga baru yang jumlahnya jauh lebih besar. Ia membantu dalam kemanusaiaan, sekaligus berdakwah, sekaligus membentuk keluarga besar yang baru.

Sumber : Republika

Park Dong Shin : Muallaf dari Korea Selatan

“Aku menemukan harapan dalam Islam, kemudian saya menjadi muslim,” ujar seorang mualaf dari Korea Selatan, Park Dong Shin yang kini mengubah namanya menjadi Abd Ar-Ra’oof. Park memeluk Islam saat usiannya 24 tahun. Sebelum memeluk Islam, ia merasa hidupnya hanya dipenuhi kegelapan, keraguan, kebingungan dan luka.

“Aku menulis ini (artikel kisah perjalanannya menuju Islam) untuk berbagi kepada kalian tentang sesuatu yang penting di hidupku, bagaimana aku menemukan hidup yang dipenuhi kegembiraan dan bagaimana aku menemukan makna hidup yang sebenarnya,” Park memulai kisahnya yang ia share di berbagai medsos miliknya, dari blog, fb, twitter hingga youtube.

Sejak kecil, Park telah tertarik dengan beragam budaya dunia. Pasalnya, sang ayah merupakan seorang teknisi kapal yang mengunjungi berbagai negara di belahan dunia. Park pun seringkali berinteraksi dengan warga asing. Oleh karena itu, Park tak asing pula dengan beragam agama di dunia.

Pencarian hidupnya dimulai ketika terjadi krisis moneter di Korea pada akhir 90-an. Keluarganya jatuh miskin. Orang tuanya bercerai. Ia pun kemudian terpaksa tinggal di asrama sekolah. Park miris melihat kondisi masyarakat yang kapitalis. Bahkan di sekolahnya pun, ia melihat hanya materialisme yang dipentingkan. Disitulah ia kemudian berfikir, ada tujuan hidup yang mulia dibanding sekedar mengejar materi.

Hati dan pikiran pria kelahiran Busan itu pun mulai dipenuhi pertanyaan. “Mengapa aku harus hidup?”, “Apa tujuan hidup itu”, “Dimana Tuhan?”, dan pertanyaan serupa. Ia pun kemudian tertaruk dengan agama. Ia datang ke gereja untuk menempuh jalan yang benar. Namun ia tak mendapatkannya.

Hingga kemudian Park menonton beberapa film hollywood yang kisahnya menyudutkan agama Islam. Bukan terpedaya, Park justru melihat ada kemunaikan di dalamnya. Ia pun mencari kebenaran akan Islam. Ia pergi ke perpustakaan dan membaca buku agama Islam.

“Aku mengunjungi banyak gereja dan mempelajari Al Kitab, namun aku tak berfikir untuk mempelajari Islam. Karena aku tak tahu kalau Islam adalah agama Allah. Aku pun mempelajarinya. Dan Islam, ini adalah kebenaran,” ujar Park.

Park terpesona, Islam menjawab segala pertanyaannya. Islam juga memberikan harapannya untuk tak terpedaya kapitalisme. Materi bukanlah tujuan hidup. Begitu terpesona saat mengenal Islam, yang ada di benak park hanya satu, “Mengapa selama ini aku tak pernah tahu tentang Islam?” ujarnya menyesal baru mengenal Islam.

Park pun kemudian jatuh hati pada Islam. Ia mulai serius mendalami Islam. Park mendaftar keangotaan masyarakat muslim di internet kemudian mendapat konseling dari komunitas muslim. Ia pun kemudian mendatangi Masjid Seoul untuk mendapat bimbingan lebih lanjut.

“Aku pergi ke Masjid Seoul setiap hari Sabtu untuk mengambil kelas bahasa Arab dan Islam. Aku tak mengerti bahasanya, tetapi ajaran Arab dan Quran bagai bahasa langit dan malaikat. Aku pun menjadi yakin bahwa Islam adalah rahmat dan karunia Allah bagi umat manusia. Ada banyak agama di dunia dan mereka adalah buatan manusia , namun Islam adalah agama diungkapkan langsung oleh Allah melalui malaikat dan karenanya dibuat langsung oleh Tuhan,” ujarnya.

Setelah memantapkan hati, Park kemudian mengiucapkan syahadat. Ia mendapati Islam begitu indah. Islam menuntutn pada kebenaran. “Anda akan terkejut setelah Anda mengenal Islam . Bagaimana bisa ada seperti agama yang sempurna dan indah?” ujarnya.

Belajar ke Haramain

Park benar-benar terpesona dengan ajaran Islam. Ia tak pernah puas mempelajari dinnullah di tempat tinggalnya di Seoul. Ia ingin menempa lebih banyak ilmu. Maka berankatlah ia ke Haramain untuk belajar langsung di tanah kelahiran Islam.

Park begitu bersemangat. Ia berkeinginan dapat mendakwahkan Islam dengan baik. “Aku pergi ke Arab Saudi untuk belajar Al Qur’an dan Al Hadits. Aku juga membutuhkan pemahaman untuk dakwah. Bahkan setelah datang ke Madinah Al Munawarah, aku telah memulai dakwah melalui online. Aku membuat website dan berbincang dengan banyak orang Korea untuk mengenalkan mereka pada Islam,” tuturnya.

Sumber : Republika

Islam Di Inggris Tak Lagi Terkucilkan



Menjadi mualaf tidaklah mudah, terutama bagi para wanita. Tak hanya tantangan sebagai Muslim, mereka juga diuji dengan penampilan Islam, yakni berjilbab. Tak sedikit tantangan dan kesulitan yang mereka hadapi apalagi hidup sebagai minoritas di negeri non-Muslim.

Permasalahan ini yang selanjutnya menjadi bahasan pertemuan rutin para mualaf. Pertemuan itu diberinama “Revert Sister Meet and Eat”. Di sana, para mualaf Muslimah menemukan keluarga baru. Mereka disambut dengan hangat di sana.

Untuk mempererat persaudaraan, mereka pun makan bersama. Layaknya pertemuan wanita pada umumnya, tak sedikit yang kemudian membawa masakan untuk dipamerkan ke Muslimah yang lain. Mereka pun kemudian saling berbagi resep. Pemandangan yang menyenangkan dengan hubungan persaudaraan yang kental.

Acara rutin tersebut biasanya diadakan hari Sabtu pertama pada awal bulan. Mereka berkumpul sejak pukul empat hingga maghrib di Taybah CC & Education Centre di kawasan Leicester. “Ini diadakan agar para Muslimah datang dan bertemu dengan saudari Muslimah lain para mualaf,” tulis web UK Islamic Events.

Acara tersebut sebetulnya diprakarsai oleh para Muslimah Inggris yang memang telah lama berislam. Namun, mereka mengadakan acara tersebut dengan maksud dapat bertemu para Muslimah yang baru bersyahadat. Memberi dukungan kepada mereka, demikian tujuan acara

Jumlah Muslimin di Inggris memang terus meningkat tiap tahunnya. Pada 2008 terdapat 1,65 juta Muslim atau sekitar 2,7 persen dari total populasi negara monarki konstitusi tersebut. Kemudian, pada 2010 sebanyak 2,8 juta Muslim tinggal di Inggris dengan persentase sebesar 4,6 persen dari total penduduk. Dari jumlah Muslimin tersebut, 40 persen Muslimin tinggal di Ibu Kota Inggris, London.

Sumber : Republika

Cara Blake : Islam Mengatasi Ketergantungan Alkohol

Blake Ferguson cukup lama mengalami masa buruk. Mantan bintang Rugby Australia ini ketergantungan alkohol. Blake bekerja keras mengatasi ketergantungannya itu. Dan Islam, adalah cara Blake keluar dari itu. Ia pun memutuskan menjadi Muslim Jumat kemarin, seperti dilansir the age, Ahad (10/11).

Adalah petinju Muslim Australia, Anthony Mundine yang membantu sahabatnya itu hingga akhirnya memeluk Islam. Mundine terus mengawasi perkembangan Blake, hingga benar-benar tak lagi ketergantungan. Belum lama ini, keduanya sempat terlihat melaksanakan shalat berjamaah di Zetland.

Keputusan Blake memeluk Islam akhirnya diketahui rekan-rekannya di National Rugby League, tempat Blake berkarir. Sebagian besar rekannya menyambut baik putusannya itu. Mereka berharap, keputusan Blake merupakan awal yang baik untuk memulai hidup baru.

Dalam akun twitternya, petinju Billy Dib mengucapkan selamat kepada Blake. "Kami bangga kepadamu Blake, Anda telah mengambil jalan yang benar," kata Dib. Blake pun membalas,"Terima kasih, Saya begitu bahagia," kata dia.

Karir Blake benar-benar diujung tanduk, setelah dikeluarkan klub yang dibelanya. Ia dinilai klub tak mampu mengatasi ketergantungannya itu. Kini, Blake siap kembali, dengan pribadi baru, sembari berharap memperbaiki kesalahan yang diperbuatnya.

Belum lama ini, rekan Blake Sonny Bill Williams memeluk Islam. Serupa dengan Blake, Soony begitu dibenci lantaran selalu berulah. Itu yang membuat karirnya terancam.

Sumber : Republika

Chris : Pengagum Kepribadian Rasulullah SAW

Chris Irwin tak pernah membayangkan akan memeluk Islam. Agama yang begitu asing bagi warga San Antonio, Texas, AS. "Saya sejak kecil dikenalkan agama, tapi bukan hal yang istimewa," kenang dia seperti dilansir onislam.net, Kamis (31/10).

Itu sebabnya, Cris tak tahu banyak tentang agama atau Tuhan. Namun, secara naluri ia menyadari hanya ada satu Tuhan. Sosok yang saat itu dianggapnya tidak banyak membantunya dalam menjalani kehidupan.

Tuhan yang dikenalnya merupakan sosok yang membuat seorang Chris begitu rendah hati lantaran selalu gagal dalam banyak hal. Karena itu, Ateisme dipilih karena dianggap membeaskan pemikirannya.

Cerita ateisme itu berakhir ketika ia bertemu seorang perempuan Kristen. Diskusi terbangun, keyakinan Chris terhadap agama pun tumbuh. Mulailah ia kembali membaca Alkitab. Hal yang sudah lama ditinggalkannya.

Semangatnya mempelajari ajaran Kristen justru mendapat penolakan dari keluarganya. Orang tuanya melarang ia pergi ke gereja. Itu sebabnya, Chris hanya mengandalkan buku fiksi tentang Kristen. Inilah yang membuatnya frustasi.

"Saya tidak tahu apakah yang saya baca ini benar. Saya merasa ada yang bohong," kenang dia.

Suatu hari, ia menemukan buku tentang sejarah Islam. Awalnya, Chris begitu emosional. Maklum, sejak kecil Chris hanya memahami Islam sebagai agama setan. Pandangan itu berubah ketika ia mulai membacanya. Satu kalimat yang diingatnya, Muhammad menerima wahyu dari Malaikat Jibril.

"Sepertinya saya ingin soal ini," kata dia.

Chris begitu kagum dengan kepribadian Muhammad. Baginya, Rasulullah seorang manusia biasa dan sederhana yang menyempurnakan ajaran Nabi terdahulu, dalam hal ini Isa dan Daud. "Entah mengapa saya ketagihan soal ini," kata dia.

Sejak itu, Chris mulai mencari banyak informasi soal Islam dan Muslim. Ia habiskan waktu berjam-jam guna memenuhi rasa hausnya akan Islam dan Muslim. Satu kesimpulan yang didapatnya, ia ingin menjadi Muslim. "Tapi bagaimana caranya," kenang dia ketika itu.

Sepanjang hidupnya, Chris tidak pernah berinteraksi dengan Muslim. Ia bahkan dididik untuk membenci Muslim. Tapi Allah Subhanahu Wa Ta'ala membantunya melalui keteguhan hatinya. Chris terus membaca dan membaca. Hingga pada akhirnya, ia bertemu dengan pengurus organisasi Islam di San Antonio.

Melalui dia, Chris memeluk Islam. Melalui dia pula, Chris mendalami ajaran Islam. Usai mengucapkan syahadat, Chris harus mengikuti wajib militer. Inilah awal, Chris bertemu dengan Muslim dari berbagai negara. Memang, ada ketakutan dalam dirinya dengan fanatisme.

"Tapi saya dan mereka bersaudara, mereka ucapkan assalamualikum sebagai bentuk kasih sayang terhadap sesama Muslim. Ini yang membuat saya lega terlepas dari situasi yang tidak mendukung itu," kenangnya.

Sumber : Republik

Patricia Zahra Pal Menangis Setelah Shalat Pertama

Patricia Zahra Pal berusia 15 tahun saat keluarganya bermigrasi dari Hungaria ke Austria. Disana, keluarganya menetap di Villach.

Bagi Patricia, tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia harus menguasai bahasa Jerman, bahasa yang banyak dipakai warga Austria.

"Jujur, aku rindu dengan tempat tinggalku sebelumnya. Banyak teman, yang membuatku mudah menghilangkan mood tdak enak," kata dia seperti dilansironislam.net.

Suatu hari, perempuan asal Chenchya mendatangi Patricia. Senyum ramah terlepas dari perempuan berhijab itu. Ini adalah pertemuan pertama Patricia dengan seorang Muslim.

Di kampung halamannya, Patricia tidak pernah bertemu seorang Muslim. Ini karena ia sibuk dengan rutinitasnya. Namun, Austria begitu berbeda, di sini banyak komunitas agama berbeda, seperti Yahudi, Buddha dan Islam."Informasi soal Islam hanya didapatnya melalui media. Jelas, pemberitaannya begitu negatif. Tapi saya acuhkan itu," kata dia.

Seiring pertemannya dengan perempuan Chechnya, Patricia semakin paham kalau seorang Muslim itu sama seperti umat agama lain. Mereka tidak seburuk yang digambarkan media massa. "Mereka justru membantu menguasai bahasa Jerman. Mereka melindungiku dari teman-teman yang meledeku," kata dia.

Yang menarik perhatian Patricia ketika bersosialisasi dengan kawannya yang Muslim, adalah bagaimana mereka berinteraksi satu dengan yang lain. "Mereka punya tata cara bergaul antara laki-laki dan perempuan, seperti ada batasan. Tentu ini ada maksudnya. Tapi saya kagum bagaimana lelaki Muslim melindungi teman mereka yang perempuan dengan cara yang santun," kata dia.

Ketertarikan Patricia semakin menjadi ketika ia diajak makan siang bersama di rumah salah seorang temannya yang Muslim. Di sana ia menemukan sebuah keluarga besar. Mereka shalat bersama-sama. "Mereka begitu bahagia, bersatu dan mereka seperti bersyukur dengan apa yang dimiliki," kata dia.

Patricia lalu membandingkan situasi itu dengan kebanyakan keluarga di Hungaria. Di bekas negeri komunis ini, hanya ada dua anak setiap keluarga. Kebanyakan orang tua sibuk bekerja, sehingga anak diserahkan kepada pengasuh. Tingkat stres keluarga di Hungaria juga tinggi."Beda dengan mereka, keluarga Muslim," ucapnya.

Sejak makan siang bersama itu, Patricia mulai berpikir untuk lebih mendalami ajaran Islam. Namun, satu hal yang dipikirkannya, bagaimana reaksi keluarga dan lingkungannya. Perasaan "galau" ini membuatnya tertekan. Ia pun kembali mengkonsumsi alkohol di klub malam. "Aku kenakan pakaian seksi, yang membuat banyak pria meliriku. Lalu, aku mabuk setiap pekan. Uangku habis untuk itu," kata di.

Pada titik klimaks, Patricia merasa jenuh dengan itu. Ia ingin hidupnya lebih berarti. Kembali ia teringat dengan ajaran Islam. Ia cari lagi informasi tentang Islam, hingga akhirnya ia menemukan satu keluarga yang begitu hangat, dan membantunya mendalami Islam."Aku merasa inilah saatnya. Alhamdulillah, aku menjadi seorang Muslim. Aku pun melaksanakan shalat pertamaku, dan aku menangis sejadi-jadinya," kenang dia.

Usai bersyahadat, Patricia memberitahu keluarganya soal keputusan menjadi Muslim. Keluarganya marah besar, ibunya menangis sepanjang hari. Adiknya tak lagi mau berbicara dengannya. Mereka pun tak mau memandangi Patricia yang telah berhijab."Aku menangis, dan mengadu kepada Allah. Alhamdulillah, Dia mendengar keluhanku, ia mendapatkan pekerjaan yakni mengajar disebuah sekolah pemerintah," kata dia.

Serjalan seiring waktu, keluarganya tak lagi menjauhinya. Mereka menerima Patricia apa adanya. Bahkan, ibunya tak lagi memasakan daging babi. Kebahagiaan Patricia kian lengkap ketika ia menemukan pendampingnya. "Alhamdulillah, aku panjatkan rasa syukur kepada Allah atas hidayah dan rahmat-Nya," kata dia.

Sumber : Republika

Aisha Roberson : Islam Bukan Hanya Agama Bangsa Arab

Musim panas tahun 1991, Aisha Roberson menemukan ajaran Kristen di dalam Alquran. Ini dilakukannya selama dua tahun, sebelum akhirnya ia memutuskan menjadi Muslim. Alhamdulillah. "Aku menemukan kebenaran dalam Alquran. Aku baca surat Al-Maidah ayat 82-85. Ini menguatkan kerinduanku menjadi Muslim," kenang dia seperti dilansir onislam.net, Rabu (20/11).

Aisha mengalami perubahan drastis dalam hidupnya selama menjalani perkuliahan guna mengejar gelar master. Di sana, ia bertemu dengan beberapa Muslim, dan akhirnya menjadi pembimbingnya mencari kebenaran. "Aku tidak pernah benar-benar menerima ajaran Kristen sebagai cara berkomunikasi dengan Allah. Entah mengapa, ketika saya meminta paparan konsep tentang trinitas, tak ada jawaban yang memuaskan," kata dia.

Selama itu, ia banyak alokasikan waktu untuk berpikir dan merenung. Ini dilakukannya dengan harapan dapat menemukan jawaban yang dicarinya. Lalu muncullah Islam. Aisha tak banyak mengetahui informasi tentang agama ini. Satu hal yang dialami banyak masyarakat Amerika. "Satu hal yang berkesan tentang Islam dan Muslim adalah toleransi. Ini yang mendorongku mempelajari Islam," kata dia.

Setiap Muslim, kata dia, begitu tanpa beban ketika menjalani rutinitasnya. Mereka dapat melaksanakan shalat di mana pun, termasuk di udara. Mereka membawa dirinya dengan baik.

Setahun berlalu, ia semakin tertarik dengan Islam. Sebuah selebaran tentang ajaran Kristen yang membahas masalah Islam memperkuat ketertarikannya itu. Disebutkan dalam selebarannya itu, populasi Muslim di seluruh dunia mencapai satu miliar. "Yang membuatku terkejut, satu miliar itu bukan orang Arab saja," kata dia.

Selanjutnya, ia kaji Alquran terjemahan dalam bahasa Inggris selama tiga hari. Kesan yang didapatnya, Islam merupakan cara hidup yang merujuk pada kesimbangan antara keadilan dan rahmat. "Aku memutuskan mencari tahu tentang agama ini," kata dia.

Niatannya itu membawanya pada pertemuan dengan anggota Asosiasi Mahasiswa Muslim (MSA). Di sana, ia mendapat banyak informasi, baik dari diskusi maupun literatur Islam. "Mereka tidak pernah memaksaku memeluk Islam. Mereka begitu terbuka, hingga aku merasa nyaman," ucapnya

Tak lama, Aisha pun mengucapkan syahadat. Ia begitu bersemangat melaksanakan shalat dan mengenakan hijab. Ia sadar tak mudah bagi orang lain menerima keputusannya itu. Begitu pula dengan keluarganya. "Tapi Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala mempertemukanku dengan teman-teman yang baik. Kini, hari burukku sebagai Muslim lebih baik ketimbang hari-hari terbaik ketika aku masih non-Muslim," ucapnya.

Sumber : Republika

Yahudi Bukan Agama Kebenaran

Meski sudah 20 tahun berselang, Amalia Rehman, tidak bisa melupakan peristiwa bersejarah yang telah mengubah jalan hidupnya. Peristiwa ketika ia memutuskan mengucap dua kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim.

Amalia lahir dari keluarga Yahudi, ibunya seorang Yahudi Amerika dan ayahnya seorang Yahudi Israel. Ayah Amalia, Abraham Zadok bekerja sebagai tentara pada masa-masa pembentukan negara Israel tahun 1948. Kedua orang tuanya termasuk Yahudi yang taat, tapi menerapkan sistem pendidikan yang lebih moderat pada Amalia dan kedua saudara lelakinya. Amalia dan keluarganya pergi ke sinagog hanya jika ada perayaan besar agama Yahudi.

Sejak kecil Amalia dikenal sebagai anak yang cerdas dan ambisius. Pada usia 13 tahun, Amalia mulai merasa ingin menjadi orang yang lebih relijius. Karena ia menganut agama Yahudi, maka Amalia berniat memperdalam ajaran agama Yahudi. Tapi, setelah mempelajari Yudaisme, Amalia merasa belum menemukan apa yang dicarinya. Ia lalu ikut kursus bahasa Ibrani, itupun tak membantunya untuk menemukan hubungan relijiusitas agama yang dianutnya.

Kemudian, sambil kuliah di bidang psikologi di Universitas Chicago, Amalia mengambil kursus Talmud. Amalia menyebut masa itu sebagai masa yang paling membahagiakannya, karena ia melihat titik terang dari apa yang dicarinya selama ini soal agama Yahudi yang dianut nenek moyangnya. Meski akhirnya, ia menyadari bahwa agama Yahudi ternyata tidak memakai kitab Taurat. Para pemeluk agama Yahudi, kata Amalia, tidak mengikuti perintah Tuhan tapi hanya mengikuti apa kata para rabbinya.

“Semua berdasarkan pada siapa yang menurut Anda benar, sangat ambigu. Agama Yahudi bukan agama sejati, bukan agama kebenaran,” ujar Amalia.

Amalia mulai mengenal agama Islam ketika ia pindah ke California untuk berkumpul bersama keluarganya. Di kota itu, Amalia berkenalan dan berteman dengan orang-orang Arab yang sering berbelanja di toko orangtuanya yang berjualan kacang dan buah-buahan yang dikeringkan di pasar petani San Jose.

“Saya tumbuh sebagai orang Yahudi dan didikan Yahudi membuat saya memandang rendah orang-orang Arab,” kata Amalia.

Meski Amalia memiliki prasangka buruk terhadap orang-orang Arab, Amalia mengakui kebaikan orang-orang Arab yang ia jumpai di toko ayahnya. Ia bahkan berteman akrab dengan mereka. “Satu hal yang menjadi perhatian saya tentang orang-orang ini, mereka selalu bersikap baik satu sama lain dan saya merasakan betapa inginnya saya merasakan seperti mereka, sebagian hati saya ingin memiliki perasaan yang indah itu,” imbuhnya.

Suatu sore, saat Amalia dan teman-teman Arabnya menonton berita di televisi yang membuatnya bertanya-tanya tentang hari kiamat yang tidak pernah ia kenal dalam agama Yahudi. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya tentang Islam ketika itu, bagi Amalia adalah cara Tuhan untuk mendekatkan diri pada Islam.

“Allah mendekati manusia dengan cara pendekatan yang manusia butuhkan. Allah mendekati saya dengan cara yang saya butuhkan, dengan menimbulkan rasa keingintahuan saya, rasa lapar terhadap ilmu, rahasia kehidupan, kematian dan makna kehidupan,” ujar Amalia.

Hingga suatu hari, Amalia mengatakan pada teman-teman Arabnya bahwa ia sedang mempertimbangkan ingin menjadi seorang Muslim. Pernyataan Amalia tentu saja mendapat dukungan dari teman-teman Arabnya, tapi tidak dari kedua orangtuanya.

Sampai Amalia benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian menikah dengan salah seorang pria Arab dan memiliki seorang puteri bernama Ilana, teman-teman Yahudi dan orangtua Amalia masih belum menerima keislaman Amalia. Kedua orang tua Amalia bahkan memanggil suaminya dengan sebutan rasis “Si Arab”. Ibu Amalia sampai akhir hayatnya bahkan tidak mau berkomunikasi lagi dengan puterinya.

“Saya tidak suka Muslim, mereka komunitas kelas bawah. Mereka melempari orang-orang Israel dengan batu, membunuh orang-orang Yahudi, saya tidak percaya pada mereka. Ibu Amalia memandang suami Amalia yang Arab adalah musuh. Ibu Amalia sangat zionistis dan sangat membenci Islam,” tukas Abraham, ayah Amalia.

Itulah masa-masa terberat Amalia setelah menjadi seorang mualaf, tapi ia tidak pernah menceritakan kesulitannya pada suaminya. Seorang teman dekat Amalia, Emma Baron mengatakan bahwa sahabatnya itu pandai menyembunyikan perasaannya dan kesedihannya, termasuk ketika Amalia berpisah dengan suaminya.

Harapan kembali tumbuh di hati Amalia saat ia bertemu dengan seorang Muslim asal Pakistan bernama Habib. Pernikahannya dengan Habib hanya membawa sedikit perubahan bagi hubungan Amalia dengan keluarganya. Hubungan mereka mulai membaik tapi ayah dan kedua saudara lelaki Amalia tetap memandang Muslim bukanglah orang yang beragama, pengkhianat, anti-Yahudi dan anti-Israel.

“Saya sudah berusaha bersikap baik pada mereka, tapi saya gagal. Mereka mungkin lebih senang melihat saya jadi biarawati ketimbang menjadi seorang Muslim,” keluh Amalia.

Tapi hati Amalia sedikit terhibur, karena ibu tirinya Annete bisa menerimanya. Annete sendiri awalnya seorang Kristiani yang kemudian pindah ke agama Yahudi saat menikah dengan ayahnya, sepeninggal ibu kandungnya. Annete memuji Amalia sebagai orang bersikap dewasa dan teguh pada keyakinannya meski kerap mendengar komentar-komentar pedas dari ayahnya.

Amalia yang kini berusia 43 tahun mengakui mengalami pasang surut dalam kehidupannya sebagai seorang mualaf. Tapi ia mengakui menemui ketenangan jiwa dalam Islam. “Saya sudah menemukan kebenaran itu,” tandas Amalia yang sekarang hidup bahagia dengan suaminya Habib dan empat anak-anaknya.

Sumber : Eramuslim