Powered by Blogger.
Showing posts with label artikel bahasa arab. Show all posts
Showing posts with label artikel bahasa arab. Show all posts

Contoh percakapan hiwar bahasa arab dan kosa kata mufradat (astronomi)

Astronomi




أحمد : أماه، أذهب الآن إلى المدرسة

الأم : ألم تحمل معك البرطلة ؟ أخاف عليك من المطر فإن الريح تهب عاصة، والسماء تغيم

أحمد : ألا وإن المدرسة بقريبة من هنا؟ والسماء لما تمطر

الأم : ألم تطع ما أمرتك أمك ؟ هل تدري متى تمطر السماء؟ لعلك تمطر في أثناء سيرتك ؟

أحمد : سمعا وطاعة، اعفي عني يا أماه، السلام عليكم ورحمة الله

الأم : وعليكم السلام ورحمة الله


Tata Surya

Merkurius عُطَارِدٌ Venus فِيْنُوس

Mars مَارِسٌ Jupiter جُوْبِيْتِر

Pluto بَلُوْتُوْ Bumi أَرْضٌ

Neptunus نِبْتُوْن Uranus أُوْرَانُوْس

Saturnus سَاتُوْرِنْ Orbit مَحْجَرُ الْعَيْنِ

Venus فِيْنُوْس



Luar Angkasa

Matahari شَمْسٌ Meteor ظَاهِرَةٌ جَوِّيّةٌ

Planetarium بَلاَنِيْتَارِيُوْم Teleskop تِلِسْكُوْب

Ilmuwan عَالِمٌ Stasiun Luar Angkasa كُرْسِيُّ

Astronomi فَلَكِيٌّ Roket المَحّطَّةُ الْفِضَائِيَّةُ

Orbit مَحْجَرُ الْعَيْنِ Astronot فِضَائِيٌ

Bumi أَرْضٌ Pesawat Luar Angkasa طَيَّارَةُ حَيِّزِ الْفِضَاء

Bulan قَمَرٌ Komet مُذَنَّبٌ

Bintang نَجْمٌ Satelit قَمَرٌ صِنَأعِيٌ

Galaksi مُجَرَّةٌ


Arah Mata Angin

Selatan جَنُوْبٌ Tenggara جَنُوْبٌ شَرْقِيٌّ

Utara شِمَالٌ Barat daya جَنُوْبٌ غَرْبِيٌ

Barat غَرْبٌ Timur laut شِمَالٌ شَرْقِيٌّ

Timur شَرْقٌ Barat Laut شِمَالٌ غَرْبِيٌّ



Cuaca

Terang صَحْوٌ Berawan غَامٌ

Mendung غَائِمَةٌ Panas حَارٌ

Kabut سَدِيْمٌ / ضَبَابٌ Dingin بَارِدٌ

Awan سَحَابٌ Lembab رَطْبٌ

Pelangi قَوْسُ قُرَحٍ Hangat دَافِئٌ

Matahari terbit اِنْسِبَاقُ الْفَجْرِ Hujan مَطَرٌ

Embun النَّدَى / الحَلِيتُ Berangin كَثِيْرُ الرِّيَاح

Kilat petir بَرْقٌ Berkabut كَثِيْرُ الضِّيَابِ

Badai بَرِّيَّةٌ Cerah صَافٌ

Udara جَوٌّ Angin puyuh هَوْجَاء



Musim

Musim Semi رَبِيْعٌ Musim Panas صَيْفٌ

Musim Dingin شِتَاءٌ Musim Gugur خَرِيْفٌ



Kata Kerja

Berputar دَارَ – يَدُوْرُ Menabrak صَدَمَ - يَصْدِمُ

Bersinar أَشْرَقَ – يُشْرِقُ

Terbenam غَابَ – يَغِيْبُ

Terbit طَلَعَ – يَطْلُعُ

Turun نَزَلَ – يَنْزُلُ

Berhembus هَبَّ – يَهُبّ

Isim - Isim Yang di Rafa' (subjek dan predikat kalimat dalam bahasa arab)

مرفوعات الأسماء
ISIM-ISIM YANG DIMARFU'


Isim yang dimarfu' atau yang mengalami I'rab Rafa' umumnya membahas tentang Subjek dan predikat, baik dalam bentuk jumlah Ismiyyah, atau jumlah Fi'liyyah, Isim yang di marfu' terdiri dari :


1) Mubtada' dan Khabar pada Jumlah Ismiyyah (Kalimat Nominal).
Seperti yang kita ketahui bahwa bentuk kalimat sempurna bahasa arab dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Jumlah Fi'liyyah, yaitu : suatu kalimat yang Subjek dan predikatnya terdiri dari Fi'il (kata kerja) sebagai predikat dan Fa'il (pelaku kata kerja tersebut) sebagai subjeknya.
b. Jumlah Ismiyyah, yaitu : suatu kalimat yang Subjek dan prediketnya merupakan Isim yang terdiri dari Mubtada' sebagai Subjeknya dan Khabar sebagai predikatnya.

Mubtada' sendiri umumnya berada di awal permulaan kalimat dan berbentuk isim ma'rifah (biasanya ada " Al " alif lam), kedudukannya selalu berada dalam posisi Rafa', sedangkan Khabar sebagai predikat dari Mubtada' tentunya berfungsi sebagai penjelasan tentang mubtada' yang berkedudukan sebagai subjek, biasanya Khabar selalu berbentuk isim nakirah (biasanya tanpa ada " Al " alif lam), kedudukannya pun sama, yaitu posisi rafa'. dan untuk lebih jelasnya perhatikan contoh-contoh Jumlah Ismiyyah berikut :
اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ
= rumah itu besar
اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ جَمِيْلٌ = rumah itu besar (lagi) indah
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ جَمِيْلٌ
= rumah besar itu indah



Dalam contoh di atas terlihat bahwa semua Isim (mubtada' dan khabar) yang terdapat dalam Jumlah Ismiyyah adalah Marfu' (mengalami I'rab Rafa'), yang ditandai dengan harakat akhir Dhammah.

2) Fa'il (Subjek Pelaku) atau Naib al-Fa'il (Pengganti Subjek Pelaku) pada Jumlah Fi'liyyah (Kalimat Verbal).

Seperti yang kita bahas di atas, bahwa kalimta dalam bahasa arab dibagi menjadi kalimat Nominal (jumlah ismiyyah) dan kalimat verbal (jumlah Fi'liyyah). Untuk Jumlah Ismiyyah sudah kita bahas di atas, yang mana unsurnya terdiri dari Mubtada' dan Khabar.

sekarang kita akan membahas tentang Jumlah Fi'liyyah (kalimat Verbal), perlu saya ulangi bahwa kalimat verbal atau  Jumlah Fi'liyyah merupakan suatu kalimat yang Subjek dan predikatnya terdiri dari Fi'il (kata kerja) sebagai predikat dan Fa'il (pelaku kata kerja tersebut) sebagai subjeknya. dan bisa juga terdiri dari Fi'il dan Naib Al-Fa'il.

bedanya, Jumlah Fi'liyyah yang terdiri dari Fi'il dan Fa'il ada dalam bentuk kalimat verbal yang mana kata kerjanya berbentuk Aktif, sedangkan Jumlah Fi'liyyah yang terdiri dari Fi'il dan Naib Al-Fa'il ada dalam bentuk kalimat verbal yang mana kata kerjanya berbentuk Pasif.
Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut :

a. KAlimat Verbal Aktif :
جَاءَ مُحَمَّدٌ
Muhammad Datang

يَغْلِبُ عُمَرُ
Umar menang

b. Kalimat Verbal Pasif

يُغْلَبُ الْكَافِرُ
orang kafir itu dikalahkan

لُعِنَ الشَّيْطَانُ
syaitan itu dilaknat


مُحَمَّدٌ (=Muhammad) --> Fa'il (Subjek)  --> Marfu' dengan tanda Dhammah
عُمَرُ (=Umar) --> Fa'il (subjek) --> Marfu' dengan tanda Dhammah
الْكَافِرُ (=orang kafir) (subjek) --> Naib al-Fa'il --> Marfu' dengan tanda Dhammah.
الشَّيْطَانُ (=syaitan) --> Naib al-Fa'il (Subjek) --> Marfu' dengan tanda Dhammah.
Semua Kata di atas adalah Subjek dengan bentuk sebagai Fa'il dan Naib Al-Fa'il dengan posisi rafa' yang ditandai dengan harakat akhir Dhammah.
sedangkan sedangkan kata yang menjadi permulaannya adalah Fi'il atau kata kerja yang berfungsi sebagai Predikat dengan bentuk aktif dan pasif.

Percakapan Bahasa Arab (Jalan Menuju Universitas)

الطَّرِيْقُ إِلَى الْجَامِعَةِ
JALAN MENUJU UNIVERSITAS

: لَوْ سَمَحْتَ، أَيْنَ تَقَعُ الْجَامِعَةُ ؟
السائق
Permisi, dimanakah  letak universitas?
Pengemudi
: تَقَعُ الْجَامِعَةُ غَرْبَ الْمَدِيْنَةِ. رجل المرور
Universitas terletak di barat kota
Polantas
: كَيْفَ أَصِلُ إِلَيْهَا مِنْ فَضْلِكَ ؟ السائق
Tolong, bagaimana cara saya sampai ke sana?
: اِتَّجِهْ غَرْبًا فِيْ شَارِعِ طَارِقٍ بْنِ زِيَادٍ. رجل المرور
Meujulah  ke arah barat di Jalan Thariq bin Ziyad
: أَتَّجِهُ غَرْبًا فِيْ شَارِعِ طَارِقٍ بْنِ زِيَادٍ. السائق
Saya mengarah ke barat di Jalan Thariq bin Ziyad
: عِنْدَ اْلإِشَارَةِ الضَّوْئِيَّةِ الثَّالِثَةِ، اِنْعَطِفْ يَسَارًا فِيْ طَرِيْقِ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ. رجل المرور
ketika sampai di lampu merah yang ketiga, anda belok ke kiri di Jalan Khalid bin Walid.
: أَنْعَطِفُ يَسَارًا فِيْ طَرِيْقٍ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ. السائق
Saya belok ke kiri di Jalan Khalid bin Walid
: عِنْدَ الدَّوَّارِ اْلأَوَّلِ، اِرْجِعْ فِي الطَّرِيْقِ نَفْسِهِ. رجل المرور
Pada  bundaran pertama, berbaliklah ke jalan yang sama
: عِنْدَ الدَّوَّارِ اْلأَوَّلِ، أَرْجِعُ فِي الطَّرِيْقِ نَفْسِهِ. السائق
Pada bundaran pertama, saya berbalik ke jalan yang sama
: عِنْدَ أَوَّلِ شَارِعٍ، اِتَّجِهْ يَسَارًا. رجل المرور
Di belokan yang pertama, beloklah ke kiri
: عِنْدَ أَوَّلِ شَارِعٍ، أَتَّجِهُ يَسَارًا. السائق
Di belokan yang pertama, saya belok ke kiri
: تَجِدُ صَيْدَلِيَّةً عِنْدَ الزَّاوِيَةِ. رجل المرور
Anda akan menemui apotik di pojok jalan
: أَجِدُ صَيْدَلِيَّةً عِنْدَ الزَّاوِيَةِ. السائق
Saya akan menemui apotik di pojok
: اِسْتَمِرْ، وَبَعْدَ 200 مِتْرٍ تَجِدُ الْمُسْتَشْفَى الْجَامِعِيَّ عَنْ يَمِيْنِكَ. رجل المرور
Terus saja, setelah 200 meter, anda akan menemukan rumah sakit umum di sebelah kanan

: أَسْتَمِرْ، وَبَعْدَ 200 مِتْرٍ أَجِدُ الْمُسْتَشْفَى الْجَامِعِيَّ عَنْ يَمِيْنِيْ. السائق
Saya terus, dan setelah 200 meter, saya akan menemui rumah sakit umum di sebelah kanan

: الْجَامِعَةُ مُقَابِلَ الْمُسْتَشْفَى. رجل المرور
Universitas itu berhadapan dengan  rumah sakit

: شُكْرًا.
Terimakasih

: عَفْوًا.
Sama-sama

السائق
رجل المرور

Nahwu dan Sharaf dalam keilmuan Bahasa Arab

Bahasa adalah lafazh yang digunakan oleh suatu bangsa (kelompok masyarakat) untuk menerangkan maksud-maksud mereka. Bahasa itu sangat banyak, dari segi lafazhnya berbeda tapi dari segi maknanya satu. Maksudnya, satu makna yang mengungkapkan maksud dari individu-individu.

Namun, setiap bangsa dalam menerangkan suatu kata (lafazh) berbeda dengan bangsa lainnya.
Bahasa Arab adalah kalimat-kalimat yang digunakan oleh bangsa Arab untuk menngungkapkan maksud-maksud mereka. Bahasa ini kita terima dan kita kenal dengan cara periwayatan. Alquran dan Hadits Nabi SAW-lah yang telah memelihara keberadaan bahasa arab, dan karya-karya prosa dan perkataan mereka mereka yang fasih.

Ilmu Bahasa Arab
Para ahli bahasa Arab merasa khawatir bahasa arab akan punah setelah berinteraksi  dengan bahasa lain, kemudian mereka membuat kamus-kamus bahasa arab dan dan mengarang keilmuan bahasa arab yang dapat menjaga keberadaan bahasa arab. dasar-dasar ilmu inilah yang disebut ilmu-ilmu Bahasa Arab.
Jadi ilmu-ilmu bahasa Arab adalah ilmu-ilmu yang digunakan oleh pengguna bahasa arab agar tidak salah dalam menulis dan berbicara dengan bahasa arab. Keilmuan tersebut terbagi dalam tiga belas cabang ilmu, yaitu: 
  1. Ilmu Sharf 
  2. I`rab (Sharf dan I'rab dikenal dengan imu Nahwu),
  3. Rasm
  4. ma`aniy
  5. Bayan
  6. Badi`(Ma'aniy, Bayan Dan Badi' termasuk pembahasan ilmu balaghah)
  7. Arudh
  8. Qawafy,
  9. Bacaan syair,
  10. Insya (mengarang)
  11. Khutbah
  12. Sejarah sastra
  13. Matan lughah.

Sharaf dan I`rab

Dalam bahasa Arab, kata dibagi menjadi dua yaitu: mufrad (tunggal) dan tarkib (susunan). 
Pembahasan tentang kata tunggal (mufrad) temasuk obyek kajian ilmu sharaf. dapat disimpulkan bahwa sharaf adalah ilmu tentang pokok-pokok untuk mengetahui bentuk kalimat bahasa Arab dan keadaannya, bukan dari segi i`rab dan mabninya. atau ilmu yang membahas tentang kalimat yang pembahasannya dilihat dari segi i`lal, izdgham, ibdal, dan dengan ilmu tersebut kita dapat mengetahui apa-apa yang mewajibkan membentuk suatu kalimat sebelum kita menyusunnya dalam kalimat jumlah.
Sedangkan pembahasan kalimat tarkib (frase) yaitu berupa susunan dari beberapa kata termasuk dalam objek kajian ilmu I'rab. karena titik penekanannya yaitu tentang pembahasan bunyi akhir dari sebuah kata, apakah Jazm, Rafa', Nashab', atau jar. dapat disimpulkan bahwa I'rab atau lebih dikenal Nahwu (salah kaprah) oleh orang Indonesia, adalah suatu Ilmu yang memeplajari perbuhan akhir kata sesuai dengan I'rab dan kedudukan kata tersebut dalam sebuah kalimat.

Bina' Isim : Kekakuan (kebekuan) sntaksis pada isim

بِنَاءُ الأَسْمَاءِ

Sudah kita bahas pada pembahasan sebelumnya mengenai I'rab pada Isim, dimana perubahan tersebut bisa ditandai dengan perubahan harakat yang biasanya di alami oleh isim Mufrad (tunggal) dan perubahan dengan huruf yang biasanya di alami oleh isim mutsanna (dual) dan jama' (Plural) kecuali jama' Muannats Salim yang man tetap dengan cara perubahan harakat.

ada satu lagi bentuk jama' yang hampir kita lupakan, yaitu Jama' Taksir, atau jama' yang tidak memiliki kaidah morfologi yang jelas, di karenakan begitu banyak bentuk dari jama' jenis ini.
jama' ini juga mengalami perubahan dengan cara merubah harakat.

Perlu diketahui bahwa tidak semua Isim bisa mengalami I'rab atau perubahan harakat diakhir kata. Dalam hal ini, Isim terbagi dua:

1) ISIM MU'RAB ( اِسْم مُعْرَب ) yaitu Isim yang bisa mengalami I'rab. Kebanyakan Isim adalah Isim Mu'rab artinya bisa berubah akhirnya, tergantung kedudukannya dalam kalimat.

2) ISIM MABNI ( اِسْم مَبْنِي ) yaitu Isim yang tidak terpengaruh kaidah-kaidah I'rab, dalam posisi dan kedudukan apapun. diantaranya adalah: Isim Dhamir (Kata Ganti), Isim Isyarat (Kata Tunjuk), Isim Maushul (Kata Sambung), Isim Istifham (Kata Tanya).

Perhatikan contoh Isim Mabni dalam kalimat-kalimat di bawah ini:

جَاءَ هَؤُلاَءِ = Mereka datang, Ha-Ula' atau mereka dengan posisi Rafa' sebagai Objek
 رَأَيْتُ هَؤُلاَءِ = aku melihat mereka, posisi Nashab sebagai Objek
سَلَّمْتُ عَلَى هَؤُلاَءِ = aku memberi salam kepada mereka, posisi jarr setelah didahului harf Jarr.

Dalam contoh-contoh di atas terlihat bahwa Isim Isyarah هَؤُلاَءِ (mereka) tidak mengalami I'rab atau perubahan di akhir kata, meskipun kedudukannya dalam kalimat berubah-ubah, baik sebagai Subjek, Objek maupun Keterangan. Isim Isyarah termasuk diantara kelompok Isim Mabni.

I'rab Isim : Perubahan Sintaksis pada Isim

إعراب الأسماء
(I'rab, perubahan sintaksis pada Isim)

Seperti yang dipaparkan oleh AL-Ghilayayni, bahwa Bahasa arab memiliki 13 cabang ilmu, yang mana yang terpenting dari ketiga belas ilmu tersebut adalah ilmu Sharf (morfologi) dan ilmu I'rab (sintaksis)

I'rab sendiri membahas tentang kedudukan kata dalam sebuah kalimat, dan fungsinya. yang biasanya p ditandai dengan adanya perubahan baris/bentuk yang terjadi di belakang sebuah kata sesuai dengan kedudukan kata tersebut dalam susunan kalimat.
I'rab dibagi menjadi 4.
1. Rafa' (Semua Isim dan Fi'il Mudhari' )
2. Nashb (Semua Isim dan Fi'il Mudhari')
3. Jarr (Hanya Isim Saja)
4. Jazm (Fi'il Amr, dan Mudhari')

karena pembahasan kita sekarang mengenai I'rab Isim, maka penekannya adalah Isim dalam ilmu sintaksis atau Ir'rab.  Pada dasarnya, Isim bisa mengalami tiga macam I'rab yaitu:

1. I'RAB RAFA' ( رَفْع ) atau Subjek; dengan tanda pokok: Dhammah ( ُ  )
2. I'RAB NASHAB ( نَصْب ) atau Objek; dengan tanda pokok: Fathah ( َ   )
3. I'RAB JARR ( جَرّ ) atau Keterangan; dengan tanda pokok: Kasrah ( ِ   )

Perhatikan contoh dalam kalimat di bawah ini:
جَاءَ مسلمٌُ = Seorang Muslim telah datang
contoh ini, yakni Muslim(un) di tandai dengan Dhamma' sebagai tanda posisi rafa', karena kedudukan Thullab dalam kalimat tersebut sebagai Subjek (Fa'il) yang mana dalam bahasa Arab, semua subjek akan diberi posisi Rafa'.
perhatikan contoh kedua :
رَأَيْتُ مسلماً = aku melihat seorang muslim
pada kata ini, Muslim (an) Ath-Thullab(a) di beri harakat fathah, sebagai tanda posisi Nashb< karena posisinya sebagai objek (Maf'ul bi-h), yang mana dalam bahasa arab, semua maf'ul bih akan menduduki posisi Nashb.

سَلَّمْتُ عَلَى مسلمٍ = aku memberi salam kepada seorang muslim
pada contoh ini, kata Muslim(in) kembali berubah menduduki posisi Jarr, hal tersebut ditandai dengan harakat kasrah di belakang. hal tersebut di karenakan isim tersebut bergandenga dengan salah satu huruf jarr (huruf yang membuat isim setelahnya menjadi jarr) yaitu على
catatan : isim berposisi jarr hanya karena 2 alasan :
a. didahului huruf jarr
b. menjadi Idhafah (akan kita bahas pada pembahasan berikutnya ).

Perubahan-perubahan seperti diatas dengan tanda-tanda harakat yang jelas, dinamakan Alamat Ashliyyah (عَلاَمَات اْلأَصْلِيَّة) atau tanda-tanda asli (pokok). hal tersebut kebanyakan di alami oleh isim dengan bentuk tunggal. sedangkan bentuk diluar tunggal yakni jama' dan mutsanna, hal tersebut ditandai dengan perubahan huruf.


Seperti yang sudah disinggung di awal, bahwa Isim Mufrad lah yang kebanyakan mengalami perubahan pada tanda harakatnya, sedang pada isim Mutsanna :

jika Rafa', hal tersebut ditandai dengan menambah Huruf Alif+Nun Kasrah, seperti
جاء مسلمان = dua orang muslim sudah datang. bisa dilihat dari kata muslim(ani) yang menandakan dia pada posisi rafa' sebagai subjek (fa'il).
sedangkan jika posisi Nashab atau Jarr, hal tersebut ditandai dengan menambah huruf ya' sukun+Nun Kasrah sehingga
رأيت مسلميْنِ = Aku melihat dua orang muslim, ditandai dengan kata Muslim(Ayni) yang mengindikasikan posisi Nashab sebagai Objek atau (maf'ul bih), contoh kedua :
سلمت على مسلمين = dengan posisi jarr karena didahului oleh huruf jarr yaitu على

Dan mengenai Isim jama' Salim, dan kita sudah mengetahui bahwa jama' salim dibagi menjadi muannats dan mudzakkar.
Untuk jama' mudzakkar salim perubahan I'rab dapat dilihat dengan menambahkan huruf Wawu Sukun+Nun fathah :
جاء مسلموْنَ = orang-orang muslim sudah datang, posisi Muslim(una) sebagai Fa'il atau subjek dengan posisi rafa'
sedang untuk posisi Nashab dan Jarr, ditandai dengan Ya' Sukun+Nun fathah
رأيت مسلمين = Aku Melihat orang-orang Muslim, posisi nashab muslim(ina) sebagai objek (maful bih)
dan سلمت على مسلميْنَ = Aku memberi salam pada Orang-orang muslim, posisi muslim(ina) pada posisi jarr karena bergandengan dengan huruf jarr
 dan untuk jama' Muannats Salim, barulah ditandai dengan perubahan harakat,
ingat perubahan jama' mUannats salimadalah dengan menambah huruf Alim dan ta'
nah perubahan i'rabnya untuk Nasab, ditandai dengan Dhammah
جاءت مسلماتٌ = Kaum Muslimat sudah datang,
dan dengan kasrah pada posisi Jarr dan Nashab
رأيت مسلماتٍ = Aku melihat wanita-wanit muslima
سلمت على مسلمات = Aku mengucap salam pada wanita-wanita Muslimat.

Isim Isyarah (kata Tunjuk)



أسماء الإشارة
(Kata Tunjuk/Isyarat)


Untuk lebih memahami penggunaan Mudzakkar dan Muannats, serta Mufrad, Mutsanna dan Jamak dalam pengelompokan Isim, kita akan mempelajari tentang Isim Isyarah, yaitu suatu kata yang digunakan untuk menunjukkan atau mengisyaratkan sesutu.
Seperti yang sudah dijeaskna, bahwa Pembahasan ini akan menambah pemahaman mengenai pembagian isim dari segi jenisnya (Mudzakkar dan Muannats) serta dari segi jumlahnya (Mufrad, Mutsanna, Jama'), karena isim Isyrah digunakan sesuai dengan jenis dan pembagian isim itu sendiri.

Pertama, Isim Isyarah. Pada dasarnya, ada dua macam Kata Tunjuk:

1) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang dekat: هَذَا (=ini).
Contoh dalam kalimat: هَذَا كِتَابٌ (= ini sebuah buku)
2) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang jauh: ذَلِكَ (=itu).
Contoh dalam kalimat: ذَلِكَ كِتَابٌ (= itu sebuah buku)

Bila Isim Isyarah itu menunjuk kepada Isim Muannats maka:

1) هَذَا menjadi: هَذِهِ (=ini). Contoh: هَذِهِ مَجَلَّةٌ (= ini sebuah majalah)

2) ذَلِكَ menjadi: تِلْكَ (=itu). Contoh: تِلْكَ مَجَلَّةٌ (= itu sebuah majalah)

Adapun bila Isim yang ditunjuk itu adalah Mutsanna (Dual), maka:

1) هَذَا menjadi هَذَانِ. Contoh: هَذَانِ كِتَابَانِ (= ini dua buah buku)

2) هَذِهِ menjadi هَتَانِ. Contoh: هَتَانِ مَجَلَّتَانِ (= ini dua buah majalah)

3) ذَلِكَ menjadi ذَانِكَ. Contoh: ذَانِكَ كِتَابَانِ (= itu dua buah buku)

4) تِلْكَ menjadi تَانِكَ. Contoh: تَانِكَ مَجَلَّتَانِ (= itu dua buah majalah)

Sedangkan bila Isim yang ditunjuk itu adalah Jamak (lebih dari dua):

1) Bila Isim yang ditunjuk itu adalah tidak berakal, maka baik Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats, menggunakan: هَذِهِ (=ini) untuk menunjuk yang dekat dan تِلْكَ (=itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh dalam kalimat:
هَذِهِ كُتُبٌ (= ini buku-buku); هَذِهِ مَجَلاَّتٌ (= ini majalah-majalah)
تِلْكَ كُتُبٌ (= itu buku-buku); تِلْكَ مَجَلاَّتٌ (= itu majalah-majalah)

2) Bila Isim yang ditunjuk itu adalah isim untuk menyebut sesutu yang meiliki akal (manusia, malaikat dsb), maka baik Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats, menggunakan: هَؤُلاَءِ (=ini) untuk menunjuk yang dekat dan أُلَئِكَ (=itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh dalam kalimat:
هَؤُلاَءِ طُلاَّبٌ (= ini siswa-siswa); هَؤُلاَءِ طَالِبَاتٌ (= ini siswi-siswi)
أُلَئِكَ طُلاَّبٌ (= itu siswa-siswa); أُلَئِكَ طَالِبَاتٌ (= itu siswi-siswi)

Pembagian Kata dalam Bahasa Arab

أَقْسَامُ الْكَلِمَةُ
PEMBAGIAN KATA

Semua bahasa manusia tersusun dari tiga komponen dasar yaitu:

1. Satuan bunyi yang disebut "huruf" atau "abjad".
Contoh: م - س - ج - د
2. Susunan huruf yang memiliki arti tertentu yang disebut "kata".
Contoh: مَسْجِدٌ (= masjid)
3. Rangkaian kata yang mengandung pikiran yang lengkap yang disebut "kalimat".
Contoh: أُصَلِّيْ فِي الْمَسْجِدِ (= saya sedang shalat di masjid)
 
Dalam tata bahasa Arab, "kata" dibagi ke dalam tiga golongan besar:
1. ISIM ( اِسْم ) atau "kata benda". Contoh: مَسْجِد (= masjid)
atau sebuah kata yang memiliki akna sendiri, dan makna tersebut tidak terkait dan tak ada sangkut pautnya dengan waktu, mislanya القتل (membunuh) adalah sebuah isim dari kata kerja قتل yang juga bisa bermakna membunuh. namun perbedaannya adalah, isim (membunuh yang pertama tidak ada kaitannya dengan waktu, ia hanyalah nama (isim) untuk menyebutkan pekerjaan membunuh. sedangkan kata kerja (membunuh) yang kedua adalah kata kerja bentuk lampau atau فعل ماض yang berarti sudah membunuh dan memang adalah sebuah pekerjaan yang menghilangkan nyawa sesuatu, jadi itulah yang disebut fi'il dan letak perbedaannya dengan isim.
dapat disimpulkan bahwa isim tidak hanya terbatas pada kata benda saja, namun lebih luas.

2. FI'IL ( فِعْل ) atau "kata kerja". Contoh: أُصَلِّيْ (= saya sedang shalat)
atau sebuah kata yang memiliki makna sendiri dan berkaitan dengan waktu, antara bentuk lampau, sekarang, dan yang akan datang.  yang seperti contoh diatas yang berarti melakukan sesuatu dengan kaitan waktu saat ini atau sedang berlangsung

3. HARF ( حَرْف ) atau "kata tugas". Contoh: فِيْ (= di, dalam)
adalah sebuah kata yang bukan kriteria isim maupun fi'il, Huruf tidak akan bermakna jika tidak digabungkan dengan kata kerja atau kata benda.
misalnya sebagai contoh, Harf في (dalam) tidak akan bermakna apa-apa jika tidak digandengkan dengan isim misalnya kata البيت (rumah), ketikat disandingkan maka harf akan memberikan makna di dalam rumah.

Catatan :
Penggunaan istilah Kata Benda, Kata Kerja dan Kata Tugas dalam tata bahasa Indonesia, tidak sama persis dengan Isim, Fi'il dan Harf dalam tata bahasa Arab. Namun bisalah dipakai untuk sekadar mendekatkan pengertian

Pembagian Isim : Mufrad (tunggal), Mutsanna (dual) Jama' (Plural)

مُفْرَد - مُثَنَّى - جَمْع
MUFRAD (Tunggal) - MUTSANNA (Dual) - JAMA' (Plural)

Dari segi jumlah dan bilangannya, bentuk-bentuk Isim dalam bahasa Arab dibagi menjadi tiga bentuk :
1) ISIM MUFRAD (tunggal) kata  yang memiliki makna atau jumlah satu atau.
2) ISIM MUTSANNA (dual) kata yang memiliki makna atau berjumlah dua.
3) ISIM JAMAK (plural) atau kata yang memiliki makna atau jumlah dari dua.


Untuk Isim Mufrad dapat kita lihat di kamus, karena asal pangkalnya pastilah Satu atau Mufrad. kemudian ditransformasikan kebentuk dual atau Mutsanna, lalu Jama'.
Isim Mutsanna (Dual) bentuknya selalu beraturan yakni diakhiri dengan huruf Nun Kasrah ( نِ ), baik untuk Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats.
Berikut contoh transformasi dari bnetuk Mufrad (tunggal) ke bentuk Mutsanna (dual):

Mufrad                                      Mutsanna
رَجُلٌ = seorang laki-laki            رَجُلاَنِ = dua orang laki-laki
جَنَّةٌ = sebuah kebun                  جَنَّتَانِ = dua buah kebun
مُسْلِمٌ = seorang muslim             مُسْلِمَانِ  = dua orang muslim
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah       مُسْلِمَتَانِ = dua orang muslimah


Dapat dipahami dari contoh diatas, bahwa untuk merubah kebentuk dual adalah dengan menambah huruf Alif+Nun Berkasrah dalam kondisi Rafa', dan dengan ya' sukun+nun Kasrah dalam kondisi Nashab atau jarr.
Bingung untuk pembahasan Rafa', Nashab, dan Jarr? itu merupakan istilah ilmu Nahwu, bukan Sharf, jadi akan kita bahas lebih lanjut di pembahasan berikutnya pada ilmu Nahwu, yang pasti adalah unuk merubah isim kebentuk Dual atau mutsanna adalah dengan cara menambahkan Nun Kasrah di akhir kata tersebut.
Selanjutnya Isim Jama', dari segi bentuknya terbagi dua macam:

1. JAMA' SALIM ( جمْع سَالِم ) yang bentuknya beraturan, dibagi menjadi dua :
a. jama' mudzakkar salim, kata yang memiliki makna lebih dari dua dan berjenis Mudzakkar, yaitu dengan cara menambahkan Wawu Sukun+Nun Fathah pada posisi rafa', seperti contoh : مُسْلِمٌ = seorang muslim         مُسْلِمُوْنَ = kaum Muslim
dan dengan menambahkan Ya' Sukun+Nun Fathah dalam posisi selain Rafa'. contoh :
مُسْلِمٌ = seorang muslim         مُسْلِمِيْنَ = Kaum Muslim




b. Jama' Muannats salim, kata yang memiliki makna lebih dari dua dan berjenis Muannats, yaitu dengan cara menambahkan Alif+Ta' Maftuhah dalam semua posisi I'rab, baik pada posisi rafa' maupun lainnya, seperti contoh :
مُسْلِمَةٌ = seorang muslimah    مُسْلِمَاتٌ = muslimah-muslimah

2. JAMAK TAKSIR (جَمْع تَكْسِيْر ) jama' yang bentuknya tidak beraturan:

Mufrad                            Jamak Tarjamah
رَسُوْلٌ = seorang rasul       رُسُلٌ = rasul-rasul
عَالِمٌ = seorang alim          عُلَمَاءُ = orang-orang alim
رَجُلٌ = seorang laki-laki   رِجَالٌ = para laki-laki
اِمْرَأَةٌ = seorang wanita      نِسَاءٌ = wanita-wanita

Ada banyak wazan untuk mengetahui jama' taksir, seperti misalnya wazan berikut :

مفاعل، مفاعيل، فواعل، فعل، فعال، فعلة، فعل، فعلاء، أفعال

Pembagian Isim : Muannats Dan Mudzakkar

مُذَكَّر - مُؤَنَّث
MUDZAKKAR (Laki-laki) - MUANNATS (Perempuan)

Dalam tata bahasa Arab, dikenal adanya penggolongan Isim ke dalam Mudzakkar (laki-laki) atau Muannats (perempuan). Penggolongan ini ada yang memang sesuai dengan jenis kelaminnya (untuk manusia dan hewan) dan ada pula yang merupakan penggolongan secara bahasa saja atau kiasan majaziy (untuk benda dan lain-lain).

Contoh Isim Mudzakkar                   Contoh Isim Muannats
عِيْسَى  (= 'Isa)                                      مَرْيَم (= Maryam)
اِبْنٌ (= putera)                                      بِنْتٌ (= puteri)
بَقَرٌ (= sapi jantan)                               بَقَرَةٌ (= sapi betina)
بَحْرٌ (= laut)                                         رِيْحٌ (= angin)

untuk membedakan keduanya, mayoritas dapat kita lihat dari segi bentuknya, Isim Muannats berbeda dengan Mudzakkar karena biasanya ditandai dengan adanya tiga jenis huruf di belakangnya yaitu:

a) Ta Marbuthah ( ة ). Misalnya: فَاطِمَة (=Fathimah), مَدْرَسَة (=sekolah)
b) Alif Maqshurah ( ى ). Misalnya: سَلْمَى (=Salma), حَلْوَى (=manisan)
c) Alif Mamdudah ( اء ). Misalnya: أَسْمَاء (=Asma'),  سَمْرَاء (=pirang)

Namun ada pula Isim Muannats yang tidak menggunakan tanda-tanda di atas, dan untuk mengidentifikasi jenisnya kita hanya bisa berpedoman pada kamus, dan hafalan saja.
Misalnya: رِيْحٌ (= angin), نَفْسٌ (= jiwa, diri), شَمْسٌ (= matahari)
ketiga kata diatas, seperti yang sudah disampaikan, keduanya merupakan Muannats Majaziy atau kiasan, ketiganya digolongkan kedalam bentuk Muannats secara Arbitrer kebahasaan saja, bukan karena jenis kelaminnya.

Disamping itu, ada pula beberapa Isim Mudzakkar yang menggunakan Ta Marbuthah.
Contoh: حَمْزَة (Hamzah), طَلْحَة (Thalhah), مُعَاوِيَة (Muawiyah)

Selain jenis-jenis di atas, ada juga yang disebut dengan Muannats Salim dan Mudzakkar Salim, akan kita bahas di pembahasan berikutnya : Pembagian Isim : Mufrad, Mutsanna, Jama'.

Percakapan Hiwar Bahasa Arab (Masuk perguruan Tinggi)

اْلاِلْتِحَاقُ بِالْجَامِعَةِ
BERGABUNG DI UNIVERSITAS
: زُرْتُكَ أَمْسِ فِي الْبَيْتِ، وَلَمْ أَجِدْكَ.
مبارك
Saya mengunjungimu kemarin di rumah, tapi saya tidak mendapatimu
Mubarak
: ذَهَبْتُ مَعَ ابْنِيْ طَارِقٍ إِلَى الْجَامِعَةِ؛ لِيُقَدِّمَ أَوْرَاقَهُ إِلَى كُلِّيَّةِ الْهَنْدَسَةِ. سالم
Saya pergi bersama anakku Thoriq ke universitas, untuk menyerahkan berkasnya ke Fakultas Teknik
Salim
: سَيُقْبَلُ طَارِقٌ فِيْ كُلِّيَّةِ الْهَنْدَسَةِ – إِنْ شَاءَ اللهُ – فَتَقْدِيْرُهُ "مُمْتَازٌ" فِي الثَّانَوِيَّةِ. مبارك
Thoriq akan diterima di Fakultas Teknik - insya Allah - karena nilainya "Istimewa" di Sekolah Menengah.
: هَلْ قَدَّمَ ابْنُكَ أَوْرَاقَهُ إِلَى كُلِّيَّةِ الطِّبِّ ؟ سالم
Apakah anakmu telah menyerahkan berkasnya ke Fakultas Kedokteran?
: لاَ، لَمْ يُقَدِّمْ أَوْرَاقَهُ إِلَى كُلِّيَّةِ الطِّبِّ؛ إِنَّهُ لاَ يَرْغَبُ فِيْ دِرَاسَةِ الطِّبِّ. مبارك
Tidak, dia tidak menyerahkan berkasnya ke Fakultas Kedokteran; dia tidak berminat belajar kedokteran
: لاَ يَرْغَبُ فِيْ دِرَاسَةِ الطِّبِّ! لَقَدْ حَصَلَ عَلَى تَقْدِيْرِ "مُمْتَازٌ" فِي الْعُلُوْمِ الطَّبِيْعِيَّةِ. سالم
Tidak berminat kuliah kedokteran! Sungguh dia telah mendapatkan nilai "Istimewa" di pelajaran ilmu-ilmu alam
: هَذَا صَحِيْحٌ، وَلَكِنَّهُ يَرْغَبُ فِي اْلاِلْتِحَاقِ بِقِسْمِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ؛ أَحْمَدُ يُحِبُّ دِرَاسَةَ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ. مبارك
Itu betul, akan tetapi dia berminat untuk bergabung di program Bahasa Arab; Ahmad menyukai belajar Bahasa Arab
: لاَ عَجَبَ فِيْ ذَلِكَ؛ فَالْعَرَبِيَّةُ لُغَةُ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَلَكِنْ هَلْ سَيُقْبَلُ فِيْ قِسْمِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ؟ سالم
Tidak heran kalau begitu; karena Bahasa Arab adalah bahasa Al-Quran al-Karim, akan tetapi apakah ia akan diterima di Program Bahasa Arab?
: قَابَلْتُ عَمِيْدَ كُلِّيَّةِ اْلآدَابِ، وَدَرَسَ أَوْرَاقَهُ، وَوَافَقَ عَلَى قَبُوْلِهِ. مبارك
Saya telah menghadap Dekan Fakultas Sastra, beliau telah mempelajari berkas-berkasnya dan setuju untuk
زُرْتُ
menerimanya
: وَفَّقَهُ اللهُ فِيْ دِرَاسَةِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ. سالم
Semoga Allah membimbingnya dalam pelajaran Bahasa Arab
: شُكْرًا لَكَ، وَوَفَّقَ اللهُ ابْنَكَ فِيْ دِرَاسَةِ الْهَنْدَسَةِ أَيْضًا. مبارك
Terimakasih, dan semoga Allah juga membimbing anakmu dalam pelajaran Teknik.

المفردات : kosa kata
 أَمْسِ : kemarin
ذهبت (ذهب-يذهب) : pergi, berangkat
أوراق م ورق : lembaran, berkas
يقبل (قُبِل-يُقبَل) : diterima
شاء (شاء-يشاء) : berkehendak
تقدير : nilai
ممتاز (امتاز-يمتاز) : Istimewa
الثانوية : Sekolah Menengah
يرغب (رغب-يرغب) في : suka
حصل (حصل-يحصل) على : memperoleh
قسم : bagian, jurusan
لا عجب : tidak heran
وافق (وافق-يوافق) على : sepakat
عميد : ketua

Syams El-Afqar

Perckapan Hiwar Bahasa Arab (Kebudayaan)

حَضَارَةُ الْمُسْلِمِيْنَ
PERADABAN MUSLIMIN

: مَاذَا تَقْرَئِيْنَ – يَا عَائِشَةُ – هَذِهِ اْلأَيَّامَ ؟
فاطمة
Apa yang sedang engkau baca, hai Aisyah, di hari-hari ini?
Fatimah
: أَقْرَأُ كُتُبًا عَنْ حَضَارَةِ الْمُسْلِمِيْنَ. كَانَتْ حَضَارَةً عَظِيْمَةً تَقَدَّمَتْ فِي الطِّبِّ، وَالصَّيْدَلَةِ، وَالْعُلُوْمِ، وَالرِّيَاضِيَّاتِ، وَالْجُغْرَافِيَا، وَالْفَلَكِ، وَالْعُلُوْمِ اْلإِنْسَانِيَّةِ. عائشة
Saya sedang membaca sebuah buku tentang peradaban muslimin. Pernah merupakan peradaban yang besar, maju dalam ilmu kedokteran, farmasi, sains, olahraga, geografi, dan ilmu-ilmu sosial.
Aisyah
: هَلْ تَأَثَّرَتْ أَوْرُوْبَا بِحَضَارَةِ الْمُسْلِمِيْنَ ؟ فاطمة
Apakah Eropa merasakan manfaat dari peradaban muslimin?
: نَعَمْ، تَأَثَّرَتْ بِهَا كَثِيْرًا، فَقَدِ اتَّصَلَ عُلَمَاءُ أَوْرُوْبَا بِعُلَمَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَخَذُوْا عَنْهُمُ الْعِلْمَ، وَتَرْجَمُوْا كُتُبَهُمْ، وَدَرَّسُوْهَا فِيْ جَامِعَاتِهِمْ. عائشة
Iya, Eropa memperoleh manfaat yang banyak, karena para sarjana Eropa telah berhubungan dengan sarjana muslimin, dan mereka mengambil ilmu dari sarjana muslimin, menerjemahkan kitab-kitab mereka dan mempelajarinya di universitas-universitas mereka.
: وَلَكِنْ، لِمَاذَا تَأَخَّرَ الْمُسْلِمُوْنَ بَعْدَ ذَلِكَ ؟ فاطمة
Akan tetapi, kenapa muslimin mengalami kemunduran setelah itu?
: تَأَخَّرُوْ؛ لأَِنَّهُمْ تَرَكُوا الْعِلْمَ، وَابْتَعَدُوْا عَنِ الدِّيْنِ. عائشة
Mereka mundur karena meninggalkan ilmu
: كَيْفَ يَتْرُكُوْنَ الْعِلْمَ، وَاْلإِسْلاَمُ يَدْعُوْ إِلَيْهِ ؟! فاطمة
Bagaimana mereka meninggalkan ilmu, padahal Islam menyeru kepadanya?!
: أَحْسَنْتِ، فَأَوَّلُ كَلِمَةٍ نَزَلَتْ مِنَ الْقُرْآنِ، هِيَ: اِقْرَأْ. عائشة
Engkau betul, karena kata pertama yang diturunkan dari al-Quran adalah: "Bacalah"
: وَدَعَا الرَّسُوْلُ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كَثِيْرٍ مِنْ أَحَادِيْثِهِ لِطَلَبِ الْعِلْمِ، كَقَوْلِهِ: "طَلَبُ الْعِلْمَ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ". فاطمة
Dan Rasul -shallallahu 'alaihi wasallam- telah menyeru kaum muslimin dalam banyak hadits-hadits beliau untuk menuntut ilmu, seperti sabdanya: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim".
: الْحَمْدُ لِلَّهِ، فَقَدْ رَجَعَ الْمُسْلِمُوْنَ مَرَّةً أُخْرَى، إِلَى طَلَبِ الْعِلْمِ؛ فَهَا هِيَ الْمَدَارِسُ وَالْجَامِعَاتُ تَنْتَشِرُ فِيْ جَمِيْعِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ. عائشة
Segala puji bagi Allah, karena kaum muslimin sekarang telah kembali sekali lagi kepada menuntut ilmu; maka inilah dia sekolah-sekolah dan universitas-universitas tersebar di seluruh negeri-negeri muslimin.
: وَعَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، رَجُلاً كَانَ أَوْ اِمْرَأَةً، أَنْ يَطْلُبَ الْعِلْمَ طُوْلَ حَيَاتِهِ. فاطمة
Dan wajib atas setiap muslim, pria maupun wanita, untuk menuntut ilmu sepanjang hidupnya.

المفردات : kosa kata
 حَضَارَة kebudayaan
مُسْلِمِيْنَ  (أسلم يسلم) : masuk Islam, memeluk islam
 تَقْرَئِيْنَ (قرأ-يقرأ) : membaca
 كُتُبًا م كتاب : Buku
 تَقَدَّمَتْ (تقدم-يتقدم) : maju
الطِّبِّ : Kedokteran
الصَّيْدَلَةِ، : farmasi
الْعُلُوْمِ م علم : ilmu pengetahuan
الرِّيَاضِيَّاتِ : Matematika
الْجُغْرَافِيَا : Geografi
الْفَلَكِ : astrologi
الْعُلُوْمِ اْلإِنْسَانِيَّةِ. : Sosiologi/
antropologi
 تَأَثَّرَتْ (تأثر-يتأثر) : mendapat imbas, pengaruh
أَوْرُوْبَا : eropa
نَعَمْ : ya
اتَّصَلَ (اتصل-يتصل) : menyambung
عُلَمَاءُ م عالم : ilmuwan, orang pintar
أَخَذُوْا (أخذ-يأخذ) :mengambil
تَرْجَمُوْا (ترجم-يترجم) : menterjemahkan

دَرَّسُوْا : (درس-يدرس) : belajar, memepelajari
جَامِعَاتِ م جامعة : Universitas
 تَأَخَّرَ (تأخر-يتأخر) : lambat, tertinggal, mengalami kemunduran
 تَرَكُوا (ترك-يترك) : meninggalkan
ابْتَعَدُوْا (ابتعد-يبتعد) : menjauhi
 يَدْعُوْ (دعا-يدعو ) : mengajak
أحسنت : bagus, berbuat baik
كلمة : kata
نزلت (نزل-ينزل) : turun
طلب (طلب-يطلب) : mencari
فريضة : sesuatu yang wajib
رجع (رجع-يرجع) : kembali
المدارس م مدرسة : sekolah
تنتشر(انتشر-ينتشر) : menyebar
بلاد م بلد/بلدة : negeri