Powered by Blogger.

Cindy Weber : Hidayah Bagi Sang Misionaris

Ia terpesona dengan cara hidup Muslim yang hangat dan harmonis. Jika mualaf pada umumnya harus melalui perjuangan dan perjalanan panjang dalam menemukan Islam, lain halnya dengan Cindy Weber.

Ia merasa jalan menuju Islam memang telah dipersiapkan untuknya. “Saya hanya berpikir, Tuhan ingin membimbing saya, jadi tak ada penghalang apa pun yang merintangi jalan saya menuju Islam,” ujarnya.

Sejak kecil Cindy dibesarkan di Gereja Katolik. Ia dididik oleh biarawati hingga akhirnya menjadi misionaris. Tak banyak yang diceritakan Cindy bagaimana ia mempelajari Katolik dan menyebarkannya ke berbagai penjuru dunia.

Yang pasti, kisah hidayah Cindy bermula saat ia bertugas di Kenya sebagai misionaris tentunya. Di Kenya, Cindy banyak berinteraksi dengan Muslim. Diam-diam, ia terpesona dengan kehidupan umat Islam. Hanya itu yang menjadi kunci ketertarikannya pada Islam.

“Saya melihat bagaimana mereka menjalani hidup. Mereka memiliki kehidupan keluarga yang baik dan saya pikir itu sesuatu yang saya cari," kisah Cindy dalam program They Chose Islam di The Algerian TV yang bisa disaksikan di YouTube.

Cindy melihat keluarga Muslim begitu bahagia. Mereka gemar berkumpul, kemudian makan bersama. Pemandangan tersebut sangat asing bagi Cindy yang terbiasa hidup di tengah individualisme masyarakat AS.

"Kondisi yang kontras bagi saya di Amerika yang saat Minggu sore hanya di depan televisi, menonton permainan bola dengan sekotak bir. Benar-benar terasa kosong," tuturnya mengenang.

Tak ada saudara dan teman Muslim, apalagi ustaz, membuat wanita kelahiran Burlington, Wisconsin, AS tersebut terpaksa menelaah Islam sendirian, secara otodidak.

Meski tanpa guru dan tanpa ada yang menjawab pertanyaannya tentang keimanan, Cindy tak butuh waktu lama untuk memutuskan Islam akan menjadi agamanya.

Tak ada keraguan sedikit pun. Cindy merasa seakan-akan diantar untuk memeluk Islam saat kembali ke AS. Begitu mudah jalan Cindy hingga kemudian menyatakan syahadat di Chicago.

Dua pekan sebelum mengucap syahadat, Cindy sempat pergi ke Islamic Center di Chicago. Ia hanya mengatakan, "Saya tertarik pada Islam". Padahal, saat itu Cindy sudah mempelajari Islam, bahkan telah berniat untuk mengucapkan syahadat.

Pengurus Islamic Center Chicago tersebut pun memberinya beberapa literatur dan buku Islam. Setelah menerima buku tersebut, Cindy pun pergi.

Tetapi, tiba-tiba seorang Muslim dari Islamic Center tersebut memanggilnya, "Tunggu, tunggu... Kenapa kau tak menjadi Muslim sekarang saja?" Cindy menirukan pertanyaan Muslim tersebut.

"Well, saya hanya membaca buku-buku ini dan dan hal-hal serupa. Saya hanya memikirkan tentang itu," jawab Cindy.

"Baiklah, apakah kau tahu jika kamu tidak menjadi Muslim hari ini, kemudian kamu melintas jalan itu kemudian tewas, kau akan masuk neraka,” ujar Muslim tersebut mengajak Cindy bersegera menuju kebaikan. "Tidak, itu tidak mungkin karena saya seorang Katolik dan Katolik tak akan masuk neraka," kata Cindy.

"Oke, kami tahu, kau sebenarnya ingin pergi minum dengan teman-temanmu, meminum alkohol, semalam sebelum kau menjadi seorang Muslim. Itulah mengapa kau tak ingin menjadi Muslim hari ini," ujar Muslim tersebut menebak. "Aku tidak minum alkohol," jawab Cindy berdusta.

Cindy tertawa kecil, pipinya memerah ketika mengisahkan percakapan dengan pengurus Islamic Center tersebut.

Ia benar-benar mengingat peristiwa tersebut meski telah berlalu 25 tahun silam. Percakapan tersebut berujung pada pemberian sebuah alamat masjid besar di Chicago.

Pengurus Islamic Center menyerah, Cindy tak langsung memeluk Islam pada hari itu. "Jadi, saya menerima alamat (Masjid Besar Chicago) dan dua minggu kemudian saya pergi ke sana, mengucapkan syahadat,” tutur Cindy.

Begitu sederhana perjalanan sang misionaris hingga memeluk agama Islam. Cindy mengatakan, jalan Islam memang seperti sudah ditakdirkan baginya.

Ia tak merasakan kesulitan sedikit pun. Sebaliknya, kemudahan demi kemudahanlah yang ia alami saat menempuh jalan menuju hidayah.

Berkiprah di bidang sosial

Setelah memeluk Islam, Cindy menjadi Muslimah yang taat. Ia berjilbab, kemudian menikah dengan pria Muslim dan tinggal di Dallas.

Ia bahkan aktif di sebuah yayasan kemanusiaan Islam dan menghabiskan waktunya untuk berdakwah. Di sana ia membicarakan tentang Islam dan berbagi ilmu melalui dakwah.

Yayasan tersebut melindungi komunitas pengungsi di Dallas. Sekitar 50 persen pengungsi di sana adalah Muslim.

"Kami menerima mereka dan memberi tahu menerapkan syariat Islam di Amerika itu mudah. Mereka dapat menjaga iman dan tak perlu menyembuyikannya ataupun berpura-pura bukan sebagai Muslim," ujar Cindy.

Di gedung pusat yayasan tersebut, shalat lima waktu digelar setiap hari. Pelajaran agama Islam dan bahasa Arab pun diajarkan untuk anak-anak Muslim. Ada pula kelas bahasa Inggris yang diikuti tak hanya oleh anak-anak Muslim, tetapi juga non-Muslim.

Bahkan, guru bahasa Inggris di kelas tersebut merupakan seorang Katolik. "Kami bermitra dengan yayasan Katolik dan mereka mengirimkan pengajar aktif bahasa Inggris untuk mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Jadi, kami memiliki semua agama di sini, dan semua orang menyambutnya," kata Cindy toleran.

Tujuh hari dalam sepekan, waktunya dihabiskan di yayasan tersebut. Meski demikian, Cindy menikmatinya. Tetapi, diakuinya, banyak hal yang berubah setelah ia memeluk Islam. Setelah berislam dan berjilbab, Cindy sering kali diperlakukan berbeda.

Ketika belanja, misalnya, kasir sering kali bersikap kasar. "Itu hanya hal kecil, yang Anda hanya bisa menerimanya dan pergi begitu saja karena Anda tahu, orang itu tak akan bersikap seperti itu jika tahu betapa bagusnya Islam. Yang perlu Anda lakukan hanyalah berperilaku sebaik mungkin.”

Sumber : Republika

Jared Craig Morris : Yakini Islam Saat Menatap Mata Putrinya

Ia menemukan jawaban semua pertanyaannya di dalam Alquran. Tak pernah terbayangkan dalam hidup Jared Craig Morris (26 tahun) berpindah soal keyakinannya. Ia dibesarkan dalam keluarga Kristen Protestan dan saat kecil ia pernah punya cita-cita menjadi seorang pastor.

Satu momen yang paling diingatnya, yang memantapkan dirinya untuk masuk Islam adalah saat menggendong putri pertamanya. Tiga tahun lalu, tepatnya 7 Juni 2010, putrinya yang diberi nama Mary Lee Rose lahir.

''Saat itu, bidan memberikannya pada saya untuk digendong, kemudian dia langsung berhenti menangis,'' ujarnya dilansir dari laman ifoundislam, pekan lalu.

Momen ini tak pernah akan dilupakannya. ''Saat itu, saya memandang lekat mata indah anak perempuan saya, dan saya merasa yakin tentang keberadaan Allah,'' kata pria Amerika ini.

Latar belakang keluarga Craig sebenarnya adalah Kristen yang taat. Saat berusia 12 tahun, ia punya cita-cita untuk menjadi pastor.

Semua kesehariannya fokus pada cita-cita tersebut, banyak membaca buku, dan bertemu ahli agama Kristen. Alkitab selalu dipelajarinya secara nonsteop, dibawa kemana pun dan dibacanya berkali-kali.

Ia lahir di Indianapolis, negara bagian Indiana, kemudian besar di daerah Hamilton. Selama itu, tak pernah ia bersentuhan langsung dengan Islam.

Hingga akhirnya, ia bertemu seorang mualaf di tempat kerjanya, enam bulan sebelum kelahiran putrinya. Mereka kemudian banyak berbincang tentang Islam.

Sang mualaf tersebut tidak pernah bermaksud untuk mengajak, apalagi memaksa Jared agar masuk Islam. Obrolan mereka kebanyakan bersifat ringan, diiringi gelak tawa, layaknya mengobrol bersama dengan teman lainnya.

Dalam setiap obrolan tersebut, ia mendapatkan gambaran tentang Islam. Sebuah hal yang tidak pernah dikenalnya sejak ia kecil.

Ketika kecil saat ia rajin membaca buku-buku agama, ia tak pernah mendapatkan informasi tentang Islam. Agama lain seperti Buddha, Hindu, ia pernah tahu. Namun Islam, baru ia dengar sekarang.

Selain kurang informasi, ia sendiri sangat jarang bertemu dengan orang yang beragama Islam. Justru, di Amerika semua media, baik televisi maupun surat kabar, terkesan memusuhi Islam dan selalu menjelek-jelekkannya.

Temannya ini membuka matanya pada Islam. Ia pun punya kesimpulan Islam dan Kristen sebenarnya sangat mirip, hanya ada beberapa perbedaan esensi di antara keduanya.

Kemudian, temannya yang mualaf itu pindah. Ia pun merasa kehilangan. ''Walau ia telah jauh, tapi kami terus berhubungan,'' katanya.

Di saat ia merasa kehilangan seorang teman yang membuka wawasannya tentang Islam, ia pun mempertanyakan imannya. ''Saya ingin lebih yakin pada keberadaan Tuhan,'' ujarnya.

Perang batin ini membuatnya frustrasi. Ia muak dengan semua dokumentasi yang menjelek-jelekkan Islam. Padahal, ia mulai mengagumi Islam, salah satunya adalah cara ibadahnya yang menyembah pencipta-Nya (ini berarti sikap sujud ketika shalat).

Lama kelamaan, ia justru melihat sisi jelek dari agama yang selama ini ia anut. Ia pun mulai membandingkan. Ia merasa dia tidak sesuci umat Islam. Bahkan, ia iri dengan umat Muslim yang bisa setaat itu pada Tuhannya.

Ia hanya ingin menjadi manusia yang taat dan bisa percaya pada Tuhannya dengan sepenuh hati. Namun, ia tidak tahu harus mencari informasi yang menenteramkan jiwanya ke mana lagi.

Dalam kebimbangannya ia merasa mendapatkan jalan buntu. Ia bahkan ditinggalkan oleh calon istrinya, mengalami kesulitan keuangan, dan ia pun menjadi pengangguran.

Ia sadar, saat itu tak ada lagi yang peduli padanya. Padahal, selama ini ia telah bekerja keras untuk menjadi seorang penganut Kristen yang baik.

Ia pun frustrasi dengan hal ini dan saat itu hatinya berkata untuk mulai mencari tahu tentang Islam. Ia mengunjungi Masjid Al Huda dan bertemu dengan beberapa kaum Muslim di sana.

Selama dua hari, ia banyak berbincang tentang Islam. ''Mereka mengatakan kepada saya, betapa pentingnya menjadi seorang Muslim,'' katanya.

Di sana ia juga diperlihatkan sebuah Alquran dan ia terkejut ternyata kisah lahirnya Yesus dijelaskan. Di sanalah ia mendapatkan informasi yang benar tentang Islam, terorisme yang dilakukan ternyata tidak dibenarkan oleh Alquran.

Sepulangnya dari tempat tersebut, justru ia bertambah galau. Ia pun pergi ke gereja dan mengajukan banyak pertanyaan pada pendetanya.

Sang pendeta tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan berdasarkan Alkitab. ''Ini sangat berbeda dengan Alquran di mana semua jawaban atas pertanyaan saya ada di sana,'' ujarnya.

Alquran, menurutnya, bisa memberikan jawaban dengan cara yang masuk akal. ''Saya masih ingin lebih banyak bukti dan lebih banyak bukti lagi yang meyakinkan bahwa Islam adalah agama yang tepat bagi saya,'' katanya.

Satu hal lagi yang memantapkan hatinya adalah konsep politik dan kepemimpinan dalam Islam. Selain itu, seringnya ia bertemu dengan orang Muslim membuat kedekatan antarsesama Muslim ini seperti saudara. ''Saya pun mantap untuk mengucapkan dua kalimat syahadat,'' katanya.

Gugup. Itu yang ia rasakan sebelum bersyahadat. Apalagi, kesaksiannya masuk Islam disaksikan orang banyak.

Namun, setelah dua kalimat syahadat terlontar dari mulutnya, ia langsung merasa berbeda. ''Saya merasa benar-benar tanpa dosa untuk pertama kalinya dalam hidup saya,'' ujarnya.

Sumber : Republika

Muallaf : Islam Menenangkan Jiwa

Tak seperti kebanyakan mualaf yang menghadapi banyak kendala ketika memilih Islam, Mahsita D Sari berjalan mulus.

Wanita kelahiran Jakarta, 16 November 1981, bersyukur mendapatkan kemudahan ketika menyatakan sebagai seorang Muslimah.

''Alhamdulillah tak ada kendala yang berarti,'' ungkap wanita yang bekerja di Manufacturing Engineer Section Leader di ResMed LTD, Sydney, Australia melalui surat elektrnoik kepada Republika.

Master Engineering Science dari University of New South Wales ini mengaku justru mamanya yang sangat berperan ia menjadi seorang Muslimah.

''Yang paling banyak mendukung dalam mempelajari Islam adalah mama. Kami belajar Islam di waktu yang sama dan secara tidak sadar kami saling memacu satu sama lain,'' paparnya.

Sita, begitu ia akrab disapa, dibesarkan di sekolah Katolik mulai Taman Kanak-kanak hingga SMP. Demikian juga dengan kakak-kakak dan adik-adiknya, waktu itu ibunya seorang Kristiani.

Sewaktu kecil, Sita sering diajak orang tuanya ke panti asuhan Kristen. ''Kami dididik orang tua jika ingin pakaian baru, maka pakaian lama harus diberikan kepada panti asuhan. Istilahnya beli satu baju baru berarti memberi satu baju lama,'' kenangnya.

Begitu akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Sita mengaku tergugah mencari tahu tentang Islam. Karena itu, ia berminat masuk SMA Negeri karena ada pelajaran agama Islam.

''Inilah awal dorongan untuk memeluk Islam. Waktu itu saya ada pilihan untuk melanjutkan ke sekolah Katolik atau di sekolah Negeri. Hati saya gundah gulana setiap kali saya ke SMA Katolik,'' ungkapnya.

Akhirnya ia memutuskan masuk SMU Negeri walaupun diakuinya ada rasa takut karena harus belajar agama Islam. ''Agama yang tidak saya kenal walaupun di waktu kecil pernah belajar mengaji sebentar,'' paparnya polos.

Rasanya saat itu, kata dia, pelajaran IPA tidak semenakutkan belajar agama Islam. ''Saya sempat stress karena waktu Penataran ada jadwal Shalat Zhuhur yang dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an sementara saya tidak bisa membaca Al-Qur’an.''

Jalan keluarnya, bersama sang mama, ia mencari Alqur’an dan terjemah. ''Alhamdulillah di sebuah toko buku Islam di Jakarta ada yang menjual Alqur’an dengan bahasa Arab dan latin. Hati agak tenang walau saya belum tahu bagaimana menavigasi isi Al-Qur’an,” ujarnya.

Sebagai upaya agar nilai pelajaran Agama tidak merah dan bisa naik kelas, Sita mulai belajar mengaji di rumah. Melalui besan dari kakaknya mama, keluarga Sita mendapatkan guru mengaji. ''Alhamdulillah, bersamaan dengan Sita belajar Islam di sekolah, kami sekeluarga juga mulai terbuka terhadap agama Islam,'' jelasnya.

Awal belajar Islam di SMA penuh suka duka. Pertama kali ulangan agama stressnya luar biasa. Tulisan Arab ia hafalkan, belajar semalam suntuk dan besoknya curi-curi belajar di kelas sedangkan teman-teman dari Al Azhar tenang-tenang saja.

Waktu menerima hasil ulangan lebih was-was lagi dan kecewa berat karena guru Agama memberinya nilai huruf V terbalik sementara teman-teman kebanyakan paling tidak mendapat huruf V yang masih ada artinya dibanding V terbalik... Beberapa bulan baru saya tahu kalau V terbalik itu adalah angka delapan dalam bahasa Arab.

Tidak lama kemudian sang mama memberitahu Sita dan keluarga akan pergi umrah. ''Saya pun mencari tahu apa itu umrah? Apa yang harus dilakukan, apa maknanya. Berbagai buku saya baca mulai dari bacaan shalat sampai tata cara umrah.''

Semuanya mengenai ibadah. ''Fokus saya saat itu, saya harus tahu tentang agama Islam supaya saya bisa naik kelas dan tahu umrah itu apa. Hal ini ternyata membuka tidak hanya wawasan, juga hati saya. Kedekatan saya kepada Allah semakin terasa di waktu umrah,'' ungkapnya penuh syukur.

Lantas, kenikmatan apa yang ia rasakan setelah menjadi Muslimah? Menurut Sita, Islam itu begitu pribadi, menenangkan jiwa dan kedekatan kepada Allah terasa lebih mudah. ''Sesuatu yang tidak saya rasakan sebelumnya,'' ungkapnya penuh syukur.

Dalam kesulitan membaca Al Qur'an, kata dia, Allah Subhanahu Wa Ta'ala meringankan dan mendekatkan hati untuk membacanya dan terus berusaha. Saat hati gundah dan pikiran kusut, berdzikr menenangkan hati dan pikiran.

''Saat bingung harus bagaimana dan diri pasrah seringkali jawaban itu hadir saat membuka Al Qur'an. Halaman yang terbuka mengandung ayat jawaban dari masalah yang ada,'' ujar Sita yang pernah aktif di The Dawn Quranic Institute dan Daar Aisha College, Sydney secara part time.

Sita membenarkan nasihat sang mama. when you are close to Allah problems will revolve around you and it won't affect you (Ketika kamu dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, persoalan yang berputar di sekitarmu, tidak akan memengaruhimu).

Sita mengaku tahu tentang Islam melalui tetangga yang juga guru ngaji di waktu kecil. Waktu itu pengetahuannya terbatas pada soal Ramadaan dan shalat taraweh di Komplek.

''Saya mulai mengenal dan belajar apa itu Islam tahun 1997 saat SMA. Umrah adalah titik balik dari hidup saya. Saat umrah ada seorang ibu asing yang mengajarkan tata cara shalat kepada Mama dan Sita di Masjid Nabawi waktu kami sedang menunggu waktu Shalat di Raudhah,'' ungkapnya.

''Ibu tersebut mengantar kami ke Raudhah dan menuntun kami ke makam Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ibu itu juga menunjukkan lokasi rumah Rasulullah SAW dan Fatimah Al Zahra. Perjalanan umrah itu menjadi perjalanan spiritual yang sangat berkesan,'' paparnya haru.

Enam bulan kemudian, kata Sita, ia dan sekeluarga pergi haji. ''Subhanallah, dalam ibadah yang sibuk dan memerlukan banyak energy, banyak kemudahan yang kami rasakan,'' ujarnya.

Menjelang kepulangan ke Tanah Air, sang kakak bertanya apakah ia akan tetap memakai hijab. ''Jawaban saya saat itu saya ingin pakai tapi saya masih ingin bermain basket dan segala kegiatan lain,'' kata Sita.

''Kakak saya bilang dalam Al Qur’an Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman memakai hijab itu wajib. Pipi saya panas seperti ditampar, saya baru tahu memakai hijab itu wajib. Sepulang haji, saya memutuskan memakai hijab. Waktu itu saya kelas 2 SMA,'' ungkapnya.

Sita yang aktif dalam berbagai kegiatan Islam di Australia seperti menjadi mentor Islamic Youth Camp di Canberra tahun lalu serta kegiatan Islam lainnya, mengaku senang tinggal di Australia.

Di Sydney misalnya, kata Sita, bisa memilih untuk hidup di lokasi yang banyak komunitas Muslimnya dan sepanjang mata memandang mayoritas adalah kaum Muslimin atau di lokasi-lokasi lain.

Walau demikian, sambung Sita, ber-Islam di Australia bisa dibilang memerlukan kepercayaan diri untuk tampil berbeda.

''Pertama tiba di Australia saya tinggal dengan Paman yang tinggal di daerah Northern Beaches di Sydney yang Muslimnya masih sangat sedikit.''

Menuju tempat kuliah, ia memerlukan perjalanan 1,5 jam dengan transport umum dari rumah. Sepanjang perjalanan selalu bertemu orang Australia, baru bertemu warga Asia kalau sudah di daerah kota (Sydney City).

Sita mengaku tak jarang mendapatkan pertanyaan, ''Mengapa kamu menutup kepala kamu? Apa kamu tidak kepanasan, ini kan sedang musim panas? Kamu Islam liberal atau radikal?'' ungkapnya getir.

Semua itu memuncak, setelah peristiwa jatuhnya Twin Tower - September 11, tak lama ia menetap di Sydney. Ujiannya, sambung Sita, tak hanya sekadar ditanya mengenai hijab atau Islam tapi juga ujian kesabaran.

''Kebencian terhadap Islam memuncak saat itu karena kebencian itu didasari oleh ketidaktahuan. Beberapa kali saya dimaki karena saya seorang Muslimah dan mereka tidak terima "saya" atau "kaum muslimin" menghancurkan the twin towers dan menyebabkan banyak nyawa melayang.''

Sekali waktu di jalan, Sita disemprot dan dimaki orang-orang yang sedang naik mobil padahal mereka tak mengenal Sita. Tetapi melalui semua ini, ia dan kawan-kawannya dalam the Islamic Society di University of New South Wales dan di pengajian Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) justru semakin dekat dengan satu sama lain dan semakin teguh iman Islamnya.

''Persaudaraan kami menjadi lebih erat dan kami jadi mencari tahu lebih lagi tentang Islam terutama bagaimana cara terbaik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Islam dan berdakwah.''

Sita mengungkapkan, dua sahabat terdekatnya memakai jilbab waktu di Sydney. Di perusahaannya, awalnya hanya Sita yang memakai hijab. ''Alhamdulillah dalam dua tahun terakhir sudah ada dua Muslimah lain yang mengenakan hijab dan diterima bekerja di perusahaan saya. Semua itu ada hikmahnya. Alhamdulillah,'' ungkapnya semringah.

Di Sydney selain bekerja sita mengajar anak-anak di salah satu TPA, bantu-bantu di kepengurusan Masjid Al Hijrah dan sekarang belajar tajwid dan hafalan Al Qur'an.

Sita bersyukur, banyak masjid yang menyelenggarakan kegiatan agama seperti ceramah Sabtu malam atau pun ceramah Jum'at. Ada juga TPA (Taman Pendidikan Alquran) yang di Australia dikenal sebagai Saturday School. ''Juga ada organisasi kemasyarakatan dan institusi pendidikan yang menyelenggarakan belajar agama baik secara gratis ataupun membayar.''

Ia mengakui, suasana ber-Islam di Australia sangat terasa terutama di bulan Ramadhaan. ''Masjid-masjid menyelenggarakan i'tikaf terutama di 10 hari terakhir. Banyak kawan yang mengambil cuti di 10 hari terakhir agar bisa memaksimalkan ibadah.''

Masjid Al Hijrah, Tempat Sita aktif membantu, biasanya mengundang ustadz dari Indonesia mengisi kegiatan sepanjang bulan Ramadhaan. ''Masjid lainnya, ada juga yang mengundang sheikh dari negara lain.''

Jum'at, Sabtu dan Ahad malam di bulan Ramadhan, kata Sita, biasanya penuh dengan iftar (buka puasa) di masjid atau iftar fundraising untuk berbagai kegiatan kemanusiaan di seluruh dunia. Pernah juga ada iklan billboard tentang Islam beberapa waktu lalu.

Aktivitas Sita dalam kegiatan TPA di Sydney memberikan pengalaman menarik baginya. Siswanya mulai usia 2.5 tahun, yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang agama dan belajar sambil main-main atau lari-lari karena usianya memang usia bermain, berubah menjadi ingin belajar dan selalu menunggu-nunggu waktu shalat.

''Pernah saat perubahan waktu shalat, anak-anak yang biasanya shalat dulu baru makan siang jadwalnya diganti menjadi makan siang dulu sebelum shalat. Saat disajikan makan siang beberapa dari mereka spontan bilang "kita kan belum shalat. Makannya setelah shalat saja."

Yang menarik, sambung Sita, semangat belajar para siswanya akhrinya menarik orang tuanya untuk lebih serius belajar agama.

''Saat anak-anak belajar, ibu-ibu yang menunggu pun mengaji. Anak dan ibu kadang berlomba untuk bisa membaca Al Qur'an. Sungguh suatu keberkahan bisa menyaksikan dan terlibat dalam perubahan baik ini,'' ungkapnya penuh syukur.

Sita menuturkan, dari berbagai observasi menyebutkan, dakwah terbaik adalah melalui amal perbuatan. Kawan-kawannya non-Muslim mengatakan perilaku umat Muslim membentuk persepsi mereka akan Islam.

Selain aktif membina di TPA, Sita dan teman-teman Muslim di Australia juga sering berdakwah melalui kegiatan sosial seperti Feed the Homeless (Memberi makan para tunawisma, Clean-Up Australia Day dan kegiatan lainnya.

Sumber : Republika

Pulahan Ribu Masyarakat Spanyol Memilih Islam

Persatuan Komunitas Islam di Spanyol menegaskan bahwa dalam beberapa tahun ini tercatat sekitar 50 ribu mualaf Spanyol masuk Islam. dan kebanyakan dari mereka adalah wanita.

Situs T Anterresa – Situs Web Islam Net- yang merupakan sebuah situs khusus Islam di Spanyol, mengatakan bahwa selama ini wanita-wanita Spanyol didorong dan di dukung untuk menikahi pria Muslim, melihat bahwa Jerman telah mencatat sekitar 20 ribu orang telah masuk Islam dalam beberapa tahun teakhir ini.

Situs tersebut juga mencatat,”sedangkan di Italia sekitar 5 ribu orang masuk Islam, salah satu dari mereka adalah anggota Parlemen Italia, Alfredo Majulisa, yang kini telah mencurahkan sebagia waktunya untuk mengenalkan Islam sebenarnya di Barat

Sedangkan di Perancis, tercatat 70 ribu orang masuk Islam, dan sebagian dari mereka juga wanita. Sementara di Inggris tercatat sekitar 100 ribu orang telah masuk Islam. menurut Situs Islam Spanyol, T. Anterresa.

Sumber : Eramuslim

Saya Diajarkan Membenci Islam

“ Selama ratusan tahun, kami diajarkan baik dalam sejarah dan buku-buku agama untuk membenci agama Islam dan menghinanya. Semua karikatur dan fitnah terhadap Nabi Muhammad yang beredar di media, adalah bagian dari materi pelajaran dan ujian di sekolah.”

Ini adalah cerita perjalananku dalam menemukan Islam.

Aku dilahirkan di kota Athena, Yunani dari keluarga Yunani Orthodok. Keluarga ayahku tinggal di Istanbul Turki hampir sepanjang hidup mereka, dan ayahku pun lahir dan dibesarkan disana. Keluarga ayahku adalah keluarga kaya, berpendidikan, dan seperti layaknya keluarga kristen orthodok yang tinggal di negara Islam, mereka pun melaksanaan ibadah sesuai agama mereka.

Kemudian datang suatu waktu dimana Pemerintah Turki memutuskan untuk mengusir warga Yunani mayoritas keluar dari Turki dan menyita semua kekayaan, rumah serta usaha mereka. Sehingga akhirnya keluarga ayahku harus kembali ke Yunani dengan tangan kosong. Itulah yang dilakukan muslim Turki terhadap mereka, dan hal tersebut menjadi sebuah validasi bagi mereka untuk membenci Islam.

Keluarga ibuku tinggal di perbatasan antara Yunani dan Turki. Pada saat penyerangan oleh Turki, tanah perbatasan tersebut dikuasi oleh Turki, dan mereka membakar rumah-rumah penduduk Yunani. Untuk menyelamatkan diri, warga-warga Yunani yang tinggal disana lari ke kota utama Yunani. Hal ini menjadi alasan untuk lebih membenci Muslim Turki.

Yunani selama lebih dari 400 tahun diduduki oleh Turki, dan kami diajarkan untuk mempercayai bahwa setiap kejahatan yang dilakukan terhadap warga Yunani, adalah tanggung jawab Islam. Orang-orang Turki adalah muslim dan kejahatan yang mereka lakukan mencerminkan kepercayaan agamanya.

Hal tersebut sebenarnya adalah rencana bijak yang dilakukan oleh Gereja Orthodok Yunani (agama dan politik di Yunanani adalah satu kesatuan), untuk membangun kebencian di hati setiap orang Yunani terhadap Islam. Ini dilakukan untuk melindungi agama mereka dan mencegah warganya berpindah ke agama Islam.

Jadi selama ratusan tahun, kami diajarkan dalam sejarah dan buku-buku Islam untuk membenci dan menghina agama Islam.

Dalam buku kami, Islam bukanlah suatu agama dan Muhammad (keberkahan untuknya) bukanlah seorang nabi! Ia hanyalah pemimpin dan politikan cerdas yang mengumpulkan berbagai aturan dan hukum dari Yahudi dan Kristen, serta menambahkan beberapa idenya sendiri yang kemudian digunakan untuk menaklukan dunia.

Di sekolah kami diajarkan untuk menghina Muhammad dan istrinya atau para pengikutnya. Semua karikatur dan fitnah terhadap beliau yang beredar di media hari ini sebenarnya adalah bagian dari pelajaran dan materi ujian kami.

Alhamdulillah, Allah melindungi hatiku, dan kebencian terhadap Islam tidak memenuhi hatiku.

Warga Yunani lainnya pun juga berhasil menghilangkan beban warisan dari agama Orthodok yang disimpan di pundak mereka dan mereka telah terbuka. Atas kehendak Allah, mata, telinga dan hati mereka ditunjukkan untuk melihat Islam sebagai agama yang benar yang dikirim Allah, dan Muhammad adalah nabi yang sebenernya serta penutup dari semua nabi.

Orang-orang muslim percaya bahwa Allah mengirimkan utusannya untuk umat manusia sebagai pemberi petunjuk bagi mereka. Dimulai dari Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishak, Musa dan Isa (semoga keberhakan untuk mereka semua). Namun, petunjukkan Allah yang terakhir di tutup oleh Nabi Muhammad (keberkahan untuknya).

Hal yang sangat membantukku adalah kenyataan bahwa kedua orangtuaku bukanlah orang yang sangat religius. Mereka jarang sekali melakukan ibadah sesuai agama mereka, dan hanya membawaku ke gereka pada saat pernikahan atau pemakaman.

Apa yang membawa ayahku keluar dari agamanya adalah korupsi yang ia lihat setiap harinya dilakukan oleh para pendeta.

Bagaimana mungkin pendeta-pendeta tersebut berbicara tentang tuhan dan menganjurkan kebaikan, dan pada saat yang sama mencuri dari sumbangan untuk gereja, membeli vila dan memiliki mobil mercedes serta menyebarkan homoseksualiti diantara mereka? Apakah ini adalah perwakilan yang benar dari agama yang akan mengarahkan kita, membenarkan kita dan menunjukkan jalan pada kita untuk lebih dekat kepada tuhan? Ayahku kecewa pada mereka dan ini mendorong dia untuk menjadi atheis.

Gereja kehilangan banyak pengikutnya, setidaknya di negaraku, karena tingkah laku para pendetanya. Dalam Islam seorang syeikh atau murid yang mendalami agama membantu dan mengarahkan sesamanya dengan semangat yang tinggi dan hanya dengan keinginan untuk menyenangkan Allah dan mendapatkan jalan mereka menuju surga.

Di Kristen, menjadi pendeta adalah pekerjaan yang menguntungkan. Korupsi yang terjadi didalam lingkungan gereja, mendorong banyak anak-anak muda untuk menjauh dari agama dan mengarahkan mereka untuk mencari yang lain.

Sebagai seorang remaja aku senang membaca berbagai macam buku dan aku mereka kurang puas dan yakin dengan kristen. Aku percaya akan Tuhan, merasa takut dan mencintai-Nya, tetapi hal lainnya membuatku bingung.

Ku mulai mencari disekitarku, tetapi tak pernah mencari tahu tentang Islam (mungkin karena latar belakang keluargaku terhadap Islam).

Alhamdulillah, Allah mengasihani jiwaku dan menunjukkan jalan dari kegelapan menuju cahaya, dari neraka ke surgaNya.

Allah memberikanku seorang suami, yang terlahir muslim, menanamkan benih cinta pada hati kami dan menggiring kita hingga menikah tanpa ada perhatian khusus diantara kita mengenai perbedaan agama.

Suamiku bersedia menjawab setiap pertanyaanku tentang agamanya, tanpa menghina kepercayaanku (meskipun salah apa yang ada dalam agamaku). Ia pun tak pernah memberikan tekanan atau bahkan memintaku untuk mengganti agamaku.

Setelah tiga tahun menikah, memiliki kesempatan untuk mengetahui lebih jauh tentang Islam dan membaca kitab suci Al Quran, sebagaimana buku agama lainnya, aku merasa yakin bahwa tidak ada hal yang dinamakan trinitas, begitupun dengan Yesus sebagai Tuhan.

Orang muslim percaya pada satu Tuhan yang tak ada bandingannya. Yang tidak memiliki anak, atau istri dan tak ada yang layak disembah selain kepada-Nya! Tidak ada yang menandingi keilahian dan keagungan-Nya.

Dalam Quran Allah mendeskripsikan tentang dirinya;Al Ikhlas 1-4

“Katakanlah: (Muhammad) Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu, (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”

Tidak ada seorang pun yang berhak untuk dipanggil, dimintai permohonannya, dan disembah selain Allah.

Islam adalah penerimaan dan kepatuhan terhadap apa yang diajarkan oleh Allah yang telah diturunkan kepada nabi terakhirnya Muhammad.

Aku menjadi muslim, dan menyimpan rahasia ini dari keluarga dan teman-teman selama bertahun-tahun. Aku dan suamiku tinggal di Yunani dan mencoba untuk menjalankan Islam, tetapi hal tersebut sangat susah bahkan nyaris tidak memungkinkan.

Di negara asalku tidak ada mesjid, tidak ada akses untuk mempelajari Islam, tidak ada orang yang melakukan shalat, puasa atau wanita yang menggunakan hijab.

Hanya ada beberapa imigran muslim yang datang ke Yunani untuk mencari kehidupan ekonomi yang lebih baik dan membiarkan gaya hidup barat menyerang mereka dan akhirnya mencemari mereka. Dan hasilnya, mereka tidak mengikuti agama mereka dan mereka benar-benar tersesat.

Kala itu benar-benar sangat sulit untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban agama Islam, terutama bagiku, yang terlahir bukan sebagai muslim dan ku tak memiliki pendidikan Islam.

Suami dan aku harus shalat dan menjalankan puasa mengandalkan kalender, tidak ada Adzan yang terdengar di telinga, tidak ada jamaah Islam yang mendukung. Kami merasa setiap hari berjalan mundur. Keyakinan kami menurun dan ombak membawa kami.

Kemudian ketika anak perempuan kami lahir, kami memutuskan untuk pindah ke negara muslim, untuk menyelamatkan jiwa kami dan anak kami, jika Tuhan mengijinkan. Kami tak ingin membesarkan anak kami di budaya barat yang terbuka dan harus berjuang untuk mempertahankan identitasnya dan mungkin akan berakhir dengan kesesatan.

Segala puji bagi Allah, Ia telah menunjukkan kami dan memberi kami kesempatan untuk pindah ke negara Islam, dimana kami bisa mendengar suara Adzhan yang merdu dan kami bisa meningkatkan pengetahuan Islam kami serta lebih mencintai Allah dan juga Nabi kita Muhammad.

Sumber : Eramuslim

Kehilangan teman, Temukan Banyak Saudara Dalam Islam

Saat pindah ke bagian barat Jerman, usai tembok Berlin runtuh, Sayed Mann, kala itu 12 tahun, adalah bocah yang tengah bingung mencari identitas diri. Keluarganya berasal dari Jerman Timur. Tumbuh besar di lingkungan sosialis, agama tidak pernah ada dalam kamus keluarga dan hidupnya. Ia cenderung tersenyum sinis saat melihat orang-orang pemeluk keyakinan tertentu, apalagi Muslim, Di Jerman Barat ia melihat situasi yang berbeda. Imigran lebih banyak dijumpai dan ia pun berkawan dengan beberapa orang asing.
“Saya tidak terbiasa dengan kehidupan baru saat itu,” aku Sayed. “Kami tiap hari hidup seperti sampah. Idola kami adalah orang-orang kulit hitam Amerika yang tinggal di pemukiman terisolir,” tuturnya.

Mengidolakan mereka, pria yang dulunya bernama Sved Mann itu pun juga mencontoh perilaku para imigran itu. “Saya melakukan banyak hal buruk termasuk mencuri dan sebagainya,” kenang Sayed. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang imigran berasal dari Turki yang menjadi kawan akrabnya. Si kawan itulah yang kemudian mengenalkan Sayed pada Islam dan berhasil mengajaknya memeluk agama tersebut. Kawan Sayed memiliki kakak lelaki seorang imam masjid lokal. Ketika si adik memberi tahu niatnya untuk mengajak Sayed berkunjung ke masjid, sang imam mengaku pesimis. “Saya bilang, ‘Dia? Tidak Mungkin’. Tapi adik saya sudah bertekad bulat. Bahkan ia mengatakan Sayed akan memeluk Islam sepulangnya saya dari bepergian,” tuturnya.

Tiga bulan kemudian, ketika si imam pulang kembali ia tiba-tiba disambut oleh Sayed dengan sapaan Assalamu’alaikum. “Wow saya terkejut. Ini benar-benar luar biasa,” ujarnya. “Saya bahkan sempat bertanya (pada Sayed-red) ‘Apa yang terjadi padamu?’”. Rupanya si imam memahami selama ini Sayed selalu mencari, namun ia tak pernah-pernah meluangkan waktu dan cenderung mengabaikan ketimbang bersungguh-sungguh. “Ia mengatakan selalu percaya dengan keberadaan Tuhan, saya kira itulah yang menuntun dia,” kata si imam. “Saya melihat ia bahagia telah menemukan Islam. Kini si imam bahkan menjadi guru mengaji Sayed. Dengan disiplin ia belajar bahasa Arab demi dapat membaca Al Qur’an tapi Sayeed tak ingin disebut pindah agama. “Tak pernah ada istilah berubah agama dalam Islam,” ujarnya. “Dalam Al Qur’an disebutkan tak ada paksaan dalam beragama,” imbuh Sayed lagi. Lalu? “Saya lebih suka mendeskripsikan sebagai ‘seseorang telah mengenalkan saya pada Islam dan saya menuju agama itu,” papar Sayed.

Ketika ditanya oleh Cengiz Kultur, sebuah proyek independen pembuatan film dokumenter tentang agama dan budaya di Jerman, mengapa ia memilih Islam, dengan mantap Sayed menjawab, “Karena pada akhirnya nanti semuanya adalah Islam,” ujarnya menekankan pada makna kata tersebut yakni berserah diri. Ia telah mengucapkan ikrar dengan syahadat sepuluh tahun lalu. Sejak saat itu ia rajin membaca untuk mengetahui dan mengenal lebih dalam apa makna Islam, termasuk bagi dirinya. Islam bagi Sayed adalah menyerahkan keinginan diri di bawah kehendak Tuhan. Mengapa ia mau melakukan? “Karena dengan itu nanti saya dapat bertemu dengan Pencipta saya, saya dapat menjumpai surga. Saya berhak untuk itu dan saya kira itulah Islam menurut saya saat ini,” papar Sayed ketika ditanya esensi Islam.

Sejak sepuluh tahun pula, Sayed melakukan shalat lima kali dalam sehari. “Ketika anda shalat anda absen dan istirahat dari dunia dan seluruh isinya. Anda membersihkan dan menghadap Sang Pencipta,” ujarnya. Ia mengaku tak ada strategi khusus untuk melakukan shalat lima kali dalam sehari di Jerman. “Setiap orang pasti bisa menemukan tempat untuk berwudhu, membasuh diri dan melakukan shalat,” ujarnya tanpa beban.

Sayed mengaku menemukan keyakinannya setelah diskusi panjang dengan si kawan tadi dalam satu malam. “Setelah itu saya langsung menyatakan ingin pergi ke masjid bersamanya,” ungkap Sayeed. Ketika itu subuh dan seorang anak kecil tengah melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Tiba-tiba Sayed pun menangis. “Saya tidak tahu mengapa. Saya tidak paham bahasa Arab, saya tidak tahu apa yang ia baca, tidak tahu apa pun,” kenangnya. “Tapi hati saya jelas telah memahami sesuatu. Itu benar-benar pengalaman luar biasa,” tutur Sayed. “Saya yang hidup di jalan ala gangster tiba-tiba bisa menangis dan tidak tahu mengapa.”

Kini selain ketenangan dan keteraturan hidup Sayed juga menemukan hal berharga lain dalam Islam. “Ketika anda menjadi seorang Muslim, anda kehilangan teman tetapi anda mendapatkan saudara,” ujarnya. Dengan segera anda menjadi anggota sebuah keluarga. Ini sesuatu yang tidak bisa saya peroleh dalam gereja-gereja di Jerman.”

Sumber : Eramuslim

Muaalaf Pertama Yang Menterjemahkan Al-Quran Arab-Inggris

Al Qur’an adalah kitab suci yang tidak ada kesalahan sebesar gabah pun, demikian Dr Maurice Bucaille berkata. Dari sanalah terpancar kemuliaan. Umat yang berinteraksi kepadanya akan mengalami kejayaan, sedang yang tidak berinteraksi dengannya akan mengalami kemunduran.

Al Qur’an juga tidak mengalami perubahan sedikitpun, sejak dari zaman Nabi hingga saat ini. Oleh karenanya, mustahil ia merupakan karya manusia. Ia sepenuhnya karya Allah Yang Maha Agung. Hingga saat ini tidak ada orang yang mampu menerjemahkan seluruh makna yang ada dalam Al Qur’an. Apa yang kita ketahui tentang terjemahan Al Qur’an, sesungguhnya itu barulah menerjemahkan sebagian dari makna ayat-ayat Qur’an.

Terlahir dengan nama Wiliiam Pickthall di London, 1875. Dia berasal dari keluarga penganut Kristen Anglikan yang taat. Masa kecil William banyak dihabiskan di kawasan Suffolk dan sempat mengecap pendidikan di Harrow, sebuah sekolah swasta elite. Beberapa lama setelah menetap disana , William kerap mengadakan perjalanan ke Negara-negara Islam danTurki. Karena kemudian banyak bersentuhan langsung dengan agama Islam. Pada tahun 1917 dia memutuskan untuk memeluk Islam. Bahkan sebelumnya William sempat menjadi pembicara pada diskusi yang diadakan Muslim Literary Society bertajuk Islam dan Progress, 29 Nopember 1917 di Notting Hill, London Barat.

Selama masaPerang Dunia I (1914-1918) William banyak menulis surat dukungan terhadap Turki Utsmaniyah. Saat propaganda dikumandangkan (1915) yang mengakibatkan pembantaian di Armenia, dia secara terang-terangan menentangnya dan menyatakan kesalahan tidak bisa ditimpakan kepada pemerintah Turki atas kejadian tersebut. Pada saat banyak imigran Muslim asal India di London, termasuk Abdullah Yusuf Ali, ia dibujuk oleh Kementrerian Luar Negeri untuk menyediakan bahan-bahan propaganda dukungan terhadap Inggris dalam perang melawan Turki. Namun Wiliam bergeming. Ia tetap tegas dengan pendiriannya guna membela saudaranya sesama Muslim.

Begitu juga saat komunitas Muslim di Inggris diberikan pilihan apakah setia terhadap sekutu (inggris danPrancis) atau justru mendukung Jerman dan Turki , jawaban yang diberikan William cukup mengejutkan. Dia tidak akan mendukung negaranya itu. Tahun 1919, William aktif di Biro Informasi Islam yang berkedudukan di London serta beberapa usaha penerbitan media Islam lainnya seperti Muslim Outlook. Usai merampungkan novelnya berjudul Early Hours (1920) , dia mendapat penugasan di India sebagai editor di surat kabar Bombay Chronicle. Kemudian pada 1927 William pindah ke penerbitan jurnal tiga bulanan Islamic Culture selaku editor yang berkantor di Hyderabad.

Sebenarnya sudah sejak lama saat baru masuk Islam, William punya obsesi menerjemahkan kitab suci Al Qur’an ke bahasa Inggris . Dia merasa adalah tanggung jawab semua umat Muslim untuk memahami Al Qur’an dengan sebenar-benarnya. Akhirnya pada 1930, William menerbitkan hasil kerja kerasnya, yakni kitab the Meaning Glorius of Koran. Ribuan umat Muslim pun segera mendapat manfaat dari karya Muhammad Marmaduke Pickthall – Nama Islam William- yang lantas dianggap banyak kalangan sebagai karya monumental. Tak hanya itu umat Muslim pun kemudian menyadari bahwa The Meaning Glorius of Koran diselesaikan di kota NIzamate, Hyederabad, Sebuah kawasan di Selatan India yang didominasi umat Islam.

Ada lagi satu sumbangsihnya selama tinggal di Hyderabad terkait dengan upaya menegakkan syiar Islam. Pada 1925, Pickthall diundang oleh Komite Umat Muslim di Madras untk memberikan kuliah umum tentang segala aspek mengenai Islam. Koleksi dari bahan-bahan kuliahnya ini sudah dipublikasikan pada 1927 dengan harapan agar kalangan non muslim lainnya dapat mengerti apa itu agama Islam. Pada 1928, Pickthall menyelesaikan proyeknya dalam menerjemahkan Al Qur’an . Seperti ilmuwan muslim lainnya, ia tidak menerjemahkan kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al Qur’an. Ia menulis dalam kata pengantarnya, qur’an tidak bisa diterjemahkan.

Jadi, terjemahannya tetap berdampingan dengan teks asli Al Qur’an dalam bahasa Arab. Karyanya ini menjadi karya pertama penulisan makna Al Qur’an dalam bahasa Inggris oleh orang Inggris asli. Selain itu, tulisan Pickthall juga menjadi salah satu dari dua karya terjemahan Al qur’an dalam bahasa Inggris yang sangat popular. Karya lainnya ditulis oleh Abdullah Yusuf Ali.

Awal 1935 Pickthall kembali ke Inggris. Pada 1936 ia berpindah ke St Ives dan meninggal di kota kecil itu pada 19 Mei 1936. Ia dimakamkan di pemakaman Muslim di Brook wood, surrey (dekat wokmg , Inggris) empat hari kemudian. Oleh kaum Muslim Inggris Pickthall dijuluki sebagai pejuang agama dan pelayan Islam sejati.

Allah akan menolong kita , ketika kita membela agamaNya. Allah akan memberikan kejayaan kepada hambaNya yang mau berinteraksi dengan ayat-ayatNya. Seperti halnya Muhammad Marmaduke Pickthall mendapat kemuliaan di dunia dan Insya Allah juga di akhirat.

-Said Ramadhan al Hafidz-

Sumber : Eramuslim

Memilih Islam, melawan keluarga dan Budaya

Saya Memilih Islam, Meski Harus Melawan Budaya dan Keluarga

Nama muslimnya Aysha. Muslimah ini berasal dari Hungaria Utara. Pertama kali mendengar tentang Islam ketika ia masih di sekolah menengah saat mata pelajaran sejarah. Sekedar informasi, Hungaria pernah berada dibawah pendudukan Turki selama 150 tahun.

Selanjutnya, Aysha kuliah di universitas jurusan biologi molekular, di mana ia bertemu dengan banyak mahasiswa Muslim dari negara lain. Sejak lama sebenarnya Aysha bertanya-tanya mengapa Muslim selalu bangga dengan kemuslimannya. Aysha sendiri, ketika itu penganut agama Kristen Katolik. Ia cukup taat dengan agamanya, tapi ia masih meragukan dan tidak setuju dengan beberapa bagian dari ajaran agamanya, misalnya; bagaimana bisa Tuhan memiliki anak laki-laki. Ia juga tidak bisa mempercayai konsep Trinitas dalam ajaran Katolik.

Aysha kemudian sering berdiskusi dengan teman-temannya. Suatu ketika ia dan teman-temannya sedang makan malam dan terdengar suara azan. Saalah seorang temannya meminta mereka diam sejenak, tapi Aysha menolak. Meski demikian, Aysha mengaku sangat terkesan temannya itu dan merasakan sesuatu telah menyentuh hatinya.

Pada suatu musim panas, Aysha mengunduh program Al-Quran dari internet. Ia tidak tahu mengapa dan untuk apa ia melakukan hal. Aysha lalu mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran dalam bahasa Arab dan membaca terjemahannya dalam bahasa Inggris. Sejak itu, Aysha banyak berpikir tentang agama Islam dan ia mulai banyak membaca banyak buku tentang Islam.

Setelah dua bulan terus memikirkan agama Islam, Aysha memutuskan untuk masuk Islam. Saya mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh dua sahabat saya, “La ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah”.

“Saya memilih Islam, meski harus melawan budaya dan keluarga, terutama ibu saya,” kata Aysha.

Bulan Ramadan pun tiba. Aysha membulatkan tekadanya untuk memulai kehidupan barunya sebagai seorang Muslimah bersama bulan suci Ramadan. Dan ia bersyukur karena berhasil melalui bulan Ramadan dengan sukses. Hal yang paling sulit buat Aysha sebagai seorang mualaf adalah saat ia belajar salat, karena ia tinggal di lingkungan non-Muslim dan ia tidak bisa bertanya pada orang-orang di sekelilingnya.

“Saya belajar sendiri bagaimana cara salat dari Internet, karena tidak ada yang menunjukkan pada saya bagaimana melaksanakan salat , bagaimana cara berwudhu, atau apa doa yang diucapkan sebelum melakukan kegiatan itu serta bagaimana etika dan hukum Islam itu,” tutur Aysha.

Aysha pernah punya seorang teman pria yang membuatnya patah semangat. Temannya itu mengatakan bahwa Aysha tidak akan pernah bisa memahami Islam, karena Aysha tidak dilahirkan sebagai seorang Muslim. Ketika Aysha mengatakan bahwa ia ingin berpuasa pada bulan Ramadan, temannya itu mengatakan bahwa puasa bulan Ramadan bukan hanya menahan lapar. Waktu itu Aysha baru satu bulan menjadi seorang muslim.

“Saat itu saya ketakutan, bagaimana jika saya tidak pernah belajar menunaikan salat dalam bahasa Arab? Bagaimana jika saya tidak melakukannya dengan cara yang benar? Dan saya tidak punya jilbab atau sajadah untuk salat. Tak yang membantu saya, sehingga saya begitu ketakutan,” ungkap Aysha.

“Tapi ketika saya mulai salat, saya berpikir Allah pasti sedang tersenyum melihat saya sekarang. Karena saya menuliskan bacaan-bacaan salat di selembar kertas di atas kertas, beserta instruksinya. Saya memegang kertas itu di tangan kanan dan membacanya dengan keras. Kemudian sujud dan membacanya lagi dan begitu seterusnya. Saya yakin saya terlihat sangat lucu. Tapi kemudian saya berhasil menghafal bacaan-bacaan salat dalam bahasa Arab begitu,” cerita Aysha.

Aysha lalu membuka akun di Facebook. Di situs jejaring sosial itu, Aysha mendapat banyak teman baru dan banyak saudara sesama muslimah. Dari sahabat-sahabatnya di internet, Aysha mendapatkan banyak perhatian dan dukungan. Seorang laki-laki muslim melamarnya, dari lelaki itu Aysha mendapatkan jilbab pertamanya, sajadah dan buku-buku Islam. Ia juga mendapatkan Al-Quran pertamanya dalam bahasa Arab yang dikirim dari Yordania karena ia sulit mendapatkan Al-Quran di Hungaria. Sekarang, sudah lebih dari setahun Aysha memakai jilbab.

Aysha mengalami periode yang sangat buruk dengan ibunya. Ibu Aysha selalu mengatakan bahwa Aysha akan menjadi teroris, bahwa Aysha akan meninggalkan ibunya seperti Aysha meninggalkan agama Katolik yang dianutnya dan bahwa Aysha juga akan meninggalkan Hungaria, negara kelahirannya.Ibu Aysha menaruh semua makanan yang mengandung daging babi di dalam lemari es dan tentu saja Aysha menolak untuk memakannya. Hal seperti itu kadang memicu pertengkaran besar antara Aysha dan ibunya.

“Ibu tidak senang melihat saya salat dan berjilbab. Saya selalu salat di dalam kamar agar ibu tidak melihat aku salat dan mengenakan jilbab. Ibu selalu berkata,’Aku melahirkan seorang anak Kristen, bukan seorang Muslim yang berjilbab’,” kisah Aysha menirukan ucapan ibunya.

“Jadi, kami punya masalah serius, tapi saya tidak pernah kasar pada Ibu. Alhamdulilah, ibu sudah tenang sekarang dan tampaknya ia menerima keislaman saya. Saya benar-benar bersyukur kepada Allah untuk itu. Sekarang saya keluar rumah dengan berjilbab, dan ibu tidak mengatakan apa-apa,” ungkap Aysha.

Hubungan Aysha dengan sang ayah, yang sejak lama dingin dan tidak saling bertegur sapa, juga membaik setelah Aysha memeluk Islam. Aysha mencoba membuka kembali komunikasi dengan ayahnya, dan kini ayah Aysha mulai mengunjunginya secara teratur.

“Ya, hidup saya adalah ujian besar tapi saya bersyukur pada Tuhan karena memiliki kesabaran dan harapan. Pada hari kiamat saya akan sangat bersyukur atas semua itu. Jadi aku berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik, dan belajar lebih banyak dan lebih banyak untuk memahami agama saya,” ujar Aysha.

Ia melanjutkan, “Saya percaya semuanya sudah ditakdirkan, jadi apa pun yang Allah katakan akan terjadi kepada saya, tidak bisa berubah, tapi saya dapat memilih untuk menjalani hidup dengan baik.”

“Saya sedang membantu sesama di Debrecen. Saya membuat proyek mengumpulkan pakaian bekas untuk kamp pengungsi.. Ada banyak Muslim di sana yang tidak punya rumah karena perang. Jadi kami mengumpulkan pakaian, kami pergi ke sana dan saya membuatkan roti Pakistan untuk anak-anak dan perempuan, mereka sangat bahagia dan sangat menyenangkan bisa bertemu mereka,” papar Aysha.

Ia juga mencoba memberikan bimbingan pada para pengungsi yang ingin masuk Islam atau baru saja masuk Islam. Di kamp pengungsi Aysha bertemu dengan dua muslimah Hungaria yang baru masuk Islam. Pada mereka, Aysha memberikan buku-buku, sajadah dan Al-Quran. “Alhamdulillah. Kami salat bersama dan mereka benar-benar bahagia,” kata Aysha haru.

Aysha menyatakan bahwa ia selalu berusaha memberikan kesan bahwa umat Islam adalah umat yang ramah dan memiliki hati yang penuh kasih sayang. Dulu, Aisyah akan bersuara keras jika ada seseorang melontarkan pernyataan yang membuatnya merasa terganggu. Tapi sekarang, Aysha selalu memberikan contoh yang baik sebagai seorang muslimah, kemanapun ia pergi. Aysha, meski baru masuk Islam satu setengah tahun yang lalu, kini sudah menunaikan salat lima waktu dengan rutin, banyak membaca buku Islam dan Al-Quran, berusaha mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah dan sekarang sedang belajar bahasa Arab.

Sumber : Eramuslim

Kumpulan Font Arab terlengkap (950 arabic font)

Kumpulan Font Arab terlengkap (950 arabic font)

Assalamu 'Alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh !!

Seperti Screenshoot diatas, ada sekitar 950 jenis arabic font, di atas merupakan salah satu contoh font arab, mulai dari font jenis Kuffiy, Riq'iy, Tsulutsiy, hingga yang paling terkenal font jenis Naskhiy dengan berbagai macam modelnya.

font merupakan salah satu seni yang bisa kita lihat pada tulisan kaligrafi, oleh karena itu saya bagikan kumpulan font yang saya miliki, saya jadikan satu file, untuk membantu temen2 yang punya miat di bidang seni tulisan, terutama temen-temen kaligrafer

untuk filenya dalam bentuk rar, bisa langsung temen-temen dapatkan melalui link berikut :

Font Arabic Pack 1
Font Arabic Pack 2
Font Arabic Pack 3
Font Arabic Pack 4




selamat berkarya !! semoga bermanfaat bagi kita semua, dunia dan akhirat.
wasalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh