Powered by Blogger.

Sejarah Pengumpulan Al-Quran

Posted by Islamic And Arabic Center

Sejarah Pengumpulan Al-Quran


a.    Masa Rasulullah SAW

Pada masa inilah semua ayat Al-Quran ditulis, hanya saja belum dikumpulkan dalam satu mushaf, melainkan ayatnya masih terpisah satu sama lain di beberapa media penulisan.
Para penulis wahyu di zaman Rasul SAW adalah para pemuka Sahabat, Seperti Sahabat 'Ali, Mu'awiyah, Ubay ibn Ka'ab dll, setiap kali wahyu turun, Rasul meminta mereka untuk menulisnya dan memberitahu termasuk bagian surat apa, para sahabat selalu meminta koreksi Nabi mengenai tulisan dan hafalan al-Quran mereka. Pada zaman ini al-Quran belum terkumpul dalam satu mushhaf, diceritakan juga bahwa segenap sahabat seperti 'Ali, Mu'adz, Zaid dll, sudah berhasil mengumpulkan seluruh bagian Al-Quran pada masa ini.
( المراجعة : مباحث في علوم القرآن, مناع القطان, مكتبة المعارف للنشر والتوزيع )

Disebutkan pula bahwa zaid ibn tsabitlah sekretaris Rasulullah, yang menuliskan semua ayat yang diwahyukan atas tuntunan Rasul SAW, sebagaimana riwayat dari Zaid " aku menulis wahyu disamping Rasul, Beliaulah yang mendiktekannya, jika sudah selesai, beliau memintaku untuk membaca hasil tulisanku, jika ada yang salah, beliau langsung membenarkannya ".
 ( تاريخ القرآن الكريم, محمد طاهر الكردي )

b.    Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakr Ash-Siddiq
 
Diriwayatkan dari 'Ubaid ibn As-Sibaq bahwa Zaid ibn Tsabit pernah berkata " Abu bakr memebritahuku soal perang Yamamah, Aku pun menghadap, ternyata ada Umar disana, kemudaian Abu bakr berkata padaku " Umar datang memberitahuku bahwa banyak para penghafal al-Quran Syahid di perang Yamamah, dia takut seluruh penghafal syahid dimedan perang, hingga al-quran pun sirna, dia memintaku untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushhaf, lalu kujawab, bagaimana bisa kamu mau  melakukan hal yang tak pernah dilakukan Rasul ?, lalu dia menimpali " Demi Tuhan, ini cara terbaik yang bisa kita lakukan ", Umar masih saja terus mendebatiku hingga akhirnya akupun sadar, dan berpikir seperti yang Umar pikirkan".
Dari situlah kemudian Zaid ibn Tsabit memulai pengumpulan al-Quran dalam satu mushaf, disebutkan dalam Irsad al-Qurra' wa al-Katibin bahwa Zaid menulis keseluruhan isi Al-Quran dalam 7 versi dialek bacaan, sesuai hadits Nabi SAW " Al-Quran diturunkan dalam 7 dialek, jadi bacalah Al-Quran dengan dialek mana saja yang menurut kalian lebih enak digunakan".
Awalnya Jibril datang dan berkata " Tuhanmu ya Muhammad memerintahkan umatmu untuk membaca Al-Quran dengan satu dialek (dialek quraisy)", namun kemudian diralat menjadi 7 dialek " Tuhanmu memerintahkan Umatmu untuk membaca Al-Quran dengan salah satu dari 7 dialek, dialek manapun yang digunakan semuanya benar ".
( تاريخ القرآن الكريم, محمد طاهر الكردي )

Dimasa pemerintahannya, Abu Bakr dihadapkan dengan peristiwa murtadnya bangsa arab, beliaupun mengerahkan pasukan untuk memerangi kaum murtad, termasuk ke daerah dataran yamamah pada tahun ke 12 hijriah yang mana pasukannya terdiri atas para hafidz dalam jumlah besar, hingga pada akhirnya tujuh puluh hafidz pun gugur diperang tersebut, mendengar hal itu umarpun kalap dan menemui khalifah memintanya untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf, khawatir akan sirnanya Al-Quran karena kewafatan para hafidznya. Abu Bakr pun menolak untuk melakukan hal tersebut, hal yang tak pernah dilakukan Rasul, namun umar tetap bersikeras meminta hal tersebut, hingga pada akhirnya Abu Bakr pun menyetujui. Akhirnya Abu Bakr pun meminta Zaid datang menghadap mengingat Zaid Adalah orang yang tepat untuk urusan tersebut karena keistimewaan bacaan Al-Qurannya, tulisannya, serta pemahaman dan kejeniusannya. Setelah Zaid datang, diceritakannya apa yang umar katakan, mendengar hal itu, Zaid pun bersikap sebagaimana sikap Abu Bakr pada awalnya, Abu Bakar pun berusaha meyakinkannya, hingga bersedia jualah Zaid untuk memulai proyek pengumpulan Al-Quran. Mulailah  Zaid mengumpulkan Al-Quran dari hafalan dan teks-teks para sahabat, setelah selesai, Mushahaf  Al-Quran tersebut diserahkan pada khalifah, Setelah Abu Bakr wafat, mushhaf tersebut diserahkan pada khalifah selanjutnya, yaitu 'Umar, kemudian putrinya Umm Al-Mukminin Hafshah menerima mushhaf tersebut sepeninggal Khalifah Umar, hingga pada Akhirnya diserahkan pada Khalifah ketiga, 'Utsman ibn 'Affan atas kebijaksanaan Khalifah 'Utsman.
( المراجعة : مباحث في علوم القرآن, مناع القطان, مكتبة المعارف للنشر والتوزيع )


c.    Masa pemerintahan Khalifah 'Utsman ibn 'Affan.
 
Menurut Ibn Hajar Al-Atsqalniy, peristiwa ini terjadi pada tahun ke 25 hijiriah, dimana suatu hari Khalifah 'Utsman memerintahkan menuliskan Al-Quran dalam satu versi dialek,oleh karena itulah mushaf tersebut disebut Mushaf 'Utsmaniy, tapi mengapa harus satu dialek? Sesuai riwayat dari Anas bahwa sahabat Khudzaifah yang pernah ikut berperang di Syam suatu hari mendatangi khalifah untuk memberitahukan apa yang dilihatnya mengenai besarnya perbedaan pembacaan Al-Quran dikalangan masyarakat Syam, kemudian beliau berkata pada khalifah " perhatikan keadaan umat sebelum mereka berselisih paham satu sama lain seperti apa yang terjadi pada kaum kristiani dan yahudi, kemudian Khalifah langsung meminta Hafshah untuk mengumpulkan semua versi Mushaf untuk kemudian direvisi menjadi satu versi mushaf, kemudian khalifah menyuruh Zaid ibn Tsabit, 'Abdullah ibn Zubair, Sa'id ibn Al-'Ash dan 'Abdurrahman ibn al-Harits untuk merevisi semua mushaf.
Dalam proyek itu khalifah sempat berpesan kepada ketiga rekan Zaid jika terjadi perbedaan pendapat antara mereka dan Zaid dalam penulisan ulang Al-Quran, beliau meminta agar perbedaan tersebut ditulis dalam dialek Quraisy, perintah itupun dilaksanakan hingga selesailah proyek tersebut, lalu kemudian beliau memerintahkan ke seluruh wilayah islam agar hanya menggunakan satu versi mushhaf yang sudah direvisi dan membakar semua versi lainnya.
( تاريخ القرآن الكريم, محمد طاهر الكردي )

Pada masa ini, kekuasaan Islam semakin meluas, salah satunya adalah upaya penaklukan daerah Iraq pada perang melawan bangsa Armenia dan Azarbijan dimana sahabat Khudzaifah merupakan salah satu dari barisan prajurit muslim pada kedua perang tersebut. Pada saat itulah sahabat Khudzaifah mendapati perbedaan yang sangat curam dalam hal pembacaan Al-Quran oleh penduduk setempat, bahkan sebagian membacanya dengan lahn,merasa paling benar dalam qiraahnya, bahkan juga saling mengkafirkan satu sama lain, hal itu membuat khudzaifah miris dan melaporkannya kepada khalifah, Para sahabatpun merasa takut akan terjadinya penyimpangan dalam Al-Quran, hingga pada akhirnya mereka sepakat untuk merevisi ulang semua versi mushaf yang ditulis pada masa kekhalifahan Abu Bakr menjadi satu mushaf dengan satu jenis dialek pembacaan. Kemudian Khalifah meminta hafshah yang saat itu dipercaya untuk menyimpang semua versi mushhaf untuk menyerahkan semua versi mushaf kepada khalifah, hingga akhirnya mushhaf-mushhaf tersebut diserahkan, kemudian khalifah meminta Zaid ibn Tsabit, Abdullah ibn Zubair, Sa'id ibn 'Ash, dan Abdurrahman ibn Al-Harits untuk merevisi semua versi mushhaf kedalam satu versi jika terdapat perbedaan pendapat diantara mereka, yaitu mushhaf dalam dialek bacaan Quraisy, mengingat Al-Quran diturunkan dalam dialek Quraisy.
( المراجعة : مباحث في علوم القرآن, مناع القطان, مكتبة المعارف للنشر والتوزيع )

Related Post



Post a Comment